Ntvnews.id, Taheran - Badan intelijen Israel, Mossad, menyampaikan seruan terbuka kepada para demonstran di Iran yang tengah melakukan aksi unjuk rasa menentang sulitnya kondisi ekonomi di negara itu. Mossad mendorong massa aksi untuk tetap melanjutkan protes mereka.
Dilansir dari AFP, Jumat, 2 Januari 2026, dalam pernyataannya, Mossad menyatakan dukungan terhadap aksi demonstrasi tersebut, bahkan disebutkan dilakukan "di lapangan", seiring meluasnya protes di ibu kota Teheran dan sejumlah kota lain di Iran.
"Turunlah ke jalan bersama-sama. Waktunya telah tiba. Kami bersama Anda," tulis Mossad melalui unggahan di media sosial X menggunakan bahasa Farsi, seperti dikutip radio militer Israel.
"Bukan hanya dari jauh atau melalui kata-kata. Kami juga bersama Anda di lapangan," lanjut pernyataan Mossad tersebut.
Baca Juga: AHY: Rumah Korban Bencana di Sumatera Harus Dirancang Lebih Tahan Risiko
Gelombang unjuk rasa ini bermula pada Minggu, 28 Desember 2025 waktu setempat, dipicu oleh aksi para pemilik toko dan pedagang di Teheran yang memprotes memburuknya perekonomian Iran. Protes serupa kemudian menjalar ke berbagai kota lain di negara tersebut.
Perkembangan terbaru menunjukkan keterlibatan mahasiswa yang turut ambil bagian dalam aksi demonstrasi tersebut.
Arsip Foto - Rabu, 8 Januari 2020 Bendera Iran yang berada di markas besar PBB di New York, AS. ((Antara) )
Merosotnya nilai tukar mata uang Rial Iran terhadap dolar Amerika Serikat dan mata uang global lainnya telah memicu lonjakan harga barang impor, yang pada akhirnya merugikan para pedagang ritel.
Seruan Mossad muncul setelah adanya pembicaraan pekan ini antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pasca pertemuan itu, Trump memperingatkan Iran soal kemungkinan serangan baru apabila Teheran tetap melanjutkan pengembangan program nuklir atau rudal balistik.
Israel dan Iran, yang dikenal sebagai musuh lama, sempat terlibat konflik bersenjata selama 12 hari pada pertengahan Juni lalu. Saat itu, Israel melancarkan serangan besar terhadap fasilitas nuklir Iran serta sejumlah kawasan permukiman, dengan klaim untuk melumpuhkan riset nuklir dan kemampuan rudal balistik Teheran.
Baca Juga: Suara dari Tapanuli Selatan: Warga Rasakan Kehadiran Negara Pascabencana
Iran kemudian membalas dengan rentetan serangan drone dan rudal ke sasaran-sasaran di Israel. Amerika Serikat, sebagai sekutu Israel, ikut terlibat dengan mengebom beberapa situs nuklir Iran sebelum akhirnya gencatan senjata diberlakukan.
Iran, yang tidak mengakui keberadaan Israel, selama ini menuding Tel Aviv berada di balik aksi sabotase terhadap fasilitas nuklirnya serta pembunuhan ilmuwan nuklir Iran.
Selain itu, Teheran juga diketahui mendukung sejumlah kelompok militan di kawasan sebagai bagian dari apa yang disebut sebagai "poros perlawanan", yang mencakup Hizbullah dan Hamas. Kedua kelompok tersebut terlibat konflik besar dengan Israel dalam dua tahun terakhir.
Mantan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dilaporkan tewas di Teheran pada Juli 2024 dalam sebuah serangan yang dikaitkan dengan Israel.
Arsip - Para pengunjuk rasa menghadiri rapat umum di Teheran, Iran. 19 April 2024. ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. (Antara)