Biaya Hidup Melonjak, Aksi Protes Mahasiswa dan Pedagang Merebak di Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Jan 2026, 15:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip - Para pengunjuk rasa menghadiri rapat umum di Teheran, Iran. 19 April 2024. ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. Arsip - Para pengunjuk rasa menghadiri rapat umum di Teheran, Iran. 19 April 2024. ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Aksi unjuk rasa terkait melonjaknya biaya hidup di Iran meluas hingga ke sejumlah kampus. Massa yang terdiri dari mahasiswa, pedagang, serta pelaku usaha turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakpuasan atas pelemahan nilai mata uang dan dampaknya terhadap harga kebutuhan.

Menurut laporan kantor media yang belum sepenuhnya resmi. berdasarkan informasi dari kantor berita Fars, ratusan mahasiswa menggelar aksi di empat universitas di Teheran. Media lain menyebutkan aksi serupa terjadi di sedikitnya tujuh titik berbeda.

Dilansir dari IRNA, Kamis, 1 Januari 2025, unjuk rasa juga terjadi di universitas teknologi di Isfahan, serta di sejumlah lembaga pendidikan di kota Yazd dan Zanjan.

Baca Juga: 10 Negara Suarakan Kekhawatiran Atas Memburuknya Kondisi Kemanusiaan di Gaza

Setelah demonstrasi besar pada Senin, 29 Desember 2025 malam, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melalui akun media sosialnya menyampaikan bahwa para menteri telah diminta menyiapkan dialog guna membahas "tuntutan nyata" para pengunjuk rasa. Ia juga menyatakan pemerintah sedang merumuskan langkah responsif atas aksi tersebut.

"Kami memiliki langkah-langkah fundamental dalam agenda mereformasi sistem moneter dan perbankan serta menjaga daya beli masyarakat," ujar Masoud Pezeshkian, setelah nilai tukar rial Iran merosot hampir separuh terhadap dolar AS sepanjang 2025.

Pada Desember 2025, tingkat inflasi Iran tercatat mencapai 42,5 persen. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan sanksi Amerika Serikat dan Eropa, serta ancaman serangan lanjutan dari Israel pascakonflik singkat yang terjadi pada Juni 2025.

Pendemo Iran mengibarkan bendera Iran dan Palestina dalam aksi anti-Israel di Tehran. <b>(AP News)</b> Pendemo Iran mengibarkan bendera Iran dan Palestina dalam aksi anti-Israel di Tehran. (AP News)

Sementara itu, media Iran mengutip pernyataan juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani pada Selasa, 30 Desember 2035 yang menyebut otoritas "mengakui" para demonstran.

"Kami mendengarkan suara mereka dan kami tahu bahwa hal ini berasal dari tekanan alami yang timbul akibat beban pada mata pencaharian masyarakat," katanya.

Di sisi lain, pemerintah juga menggelar pengumpulan massa pendukung yang membawa bendera di Teheran pada Selasa, 30 Desember 2025, sebagai bagian dari agenda rutin dukungan terhadap rezim.

Baca Juga: Donasi Malam Tahun Baru Capai Rp3,1 Miliar, DKI Jakarta Bantu Korban Bencana Sumatera

Aksi ini menjadi demonstrasi publik berskala besar pertama sejak konflik singkat Iran dengan Israel pada Juni 2025, yang sebelumnya memicu gelombang solidaritas patriotik di dalam negeri.

Perekonomian Iran sendiri telah lama tertekan sejak sanksi AS diberlakukan kembali pada 2018. Tekanan kian berat setelah sanksi PBB kembali aktif pada September 2025 menyusul gagalnya upaya menghidupkan kembali perundingan pelucutan senjata nuklir.

Data dari platform valuta asing swasta menunjukkan, pada Selasa, 30 Desember 2025 nilai tukar rial Iran anjlok ke kisaran 1,4 juta per dolar AS, dari sekitar 817.500 rial per dolar pada awal 2025.

Sehari sebelumnya, Senin, 29 Desember 2025, gubernur bank sentral Iran mengundurkan diri. Media setempat melaporkan bahwa kebijakan liberalisasi ekonomi pemerintah belakangan ini turut menekan pasar valuta terbuka, yang memungkinkan masyarakat membeli mata uang asing.

Iran memiliki catatan panjang demonstrasi massal dalam beberapa tahun terakhir, meski kerap dibatasi aparat keamanan. Salah satu contoh terjadi pada Mei 2022 saat protes meletus akibat kenaikan harga bahan pokok, termasuk roti. Gelombang kerusuhan juga terjadi pada akhir 2022 hingga awal 2023, dipicu kematian Jina Mahsa Amini saat ditahan oleh kepolisian moral Iran.

x|close