Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran dengan menyebut negara itu akan “dihantam sangat keras” oleh AS apabila kembali terjadi kematian demonstran dalam gelombang unjuk rasa yang menentang tekanan ekonomi. Aksi protes akibat krisis biaya hidup di Iran tersebut kini telah memasuki pekan kedua.
"Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka (Iran-red) mulai membunuh orang-orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat," ucap Trump seperti dilansir dari AFP, Selasa, 6 Januari 2026.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbincang dengan wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu, 4 Januari 2026 waktu setempat, menanggapi situasi demonstrasi yang tengah meluas di Iran.
Baca Juga: Kemenhut Sebut Ada Peluang Penyidikan Sejumlah Pihak Terkait Kerusakan DAS di Sumut
Gelombang protes di Iran bermula pada 28 Desember lalu di Grand Bazaar Teheran, kawasan pusat aktivitas bisnis skala kecil. Aksi tersebut kemudian menyebar secara bertahap ke sejumlah daerah lain, dipicu oleh kemarahan pedagang dan pemilik toko terhadap kondisi ekonomi yang kian memburuk.
Di sejumlah wilayah, demonstrasi yang awalnya berlangsung damai dilaporkan berubah menjadi aksi kekerasan. Pemerintah Teheran menuding adanya “kekuatan eksternal” yang disebut telah menghasut para demonstran untuk melakukan tindakan anarkis.
Berdasarkan perhitungan korban yang merujuk pada laporan resmi otoritas Iran, sedikitnya 12 orang dilaporkan tewas selama rangkaian unjuk rasa berlangsung. Sejumlah korban diketahui merupakan anggota aparat keamanan Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. ANTARA/Anadolu/pri (Antara)
Aksi protes kali ini disebut sebagai yang paling besar sejak gelombang demonstrasi 2022–2023, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang meninggal dunia saat berada dalam tahanan kepolisian setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat bagi perempuan di Iran.
Sebelumnya, pada 2 Januari, Trump juga sempat menyampaikan pernyataan bernada ancaman dengan mengatakan bahwa AS akan “datang menyelamatkan” para demonstran Iran yang memprotes memburuknya kondisi ekonomi dan anjloknya nilai mata uang Rial.
Baca Juga: BPS Paparkan Penyebab Inflasi Sektor Transportasi Meski Ada Diskon Tiket Nataru
"Jika Iran menembak dan membunuh demonstran, yang beraksi damai, secara brutal, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang menyelamatkan mereka. Kami siap siaga dan siap bertindak," tegas Trump dalam pernyataannya saat itu.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bereaksi keras dengan mengecam pernyataan Trump sebagai sikap yang “ceroboh dan berbahaya”. Pemerintah Teheran menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk intervensi terhadap urusan dalam negeri Iran.
Arsip - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)