Iran Tegaskan Tak Akan Diam Hadapi Ancaman Asing

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jan 2026, 07:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (ANTARA/Anadolu) Arsip foto - Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (ANTARA/Anadolu) (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Panglima militer Iran menegaskan bahwa negaranya tidak akan berdiam diri dan membiarkan ancaman datang dari kekuatan luar. Pernyataan ini disampaikan pada Rabu, 7 Januari 2026, menyusul dukungan Amerika Serikat dan Israel terhadap gelombang aksi protes anti-pemerintah yang sedang berlangsung di Iran.

“Republik Islam Iran menganggap peningkatan retorika permusuhan terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan mentolerir kelanjutannya tanpa memberikan respons,” kata Jenderal Amir Hatami, seperti dikutip kantor berita Iran Fars dan dilansir dari AFP, Kamis, 8 Januari 2026.

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman akan melakukan campur tangan di Iran apabila para demonstran terbunuh. Di saat yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap aksi-aksi protes tersebut.

Sementara itu, dilaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat kekerasan yang mengiringi gelombang unjuk rasa di Iran pada Selasa, 6 Januari 2026 waktu setempat meningkat menjadi sedikitnya 35 orang.

Baca Juga: Senator AS Sebut Trump Ancam “Bunuh” Pemimpin Tertinggi Iran

Data tersebut disampaikan oleh jejaring pegiat hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat. Lembaga yang didirikan oleh para pelarian Iran itu juga melaporkan bahwa lebih dari 1.200 orang telah ditahan sejak demonstrasi berlangsung lebih dari sepekan.

Menurut HRANA, sebagaimana dilansir media DW, korban tewas terdiri atas 29 pengunjuk rasa, empat anak-anak, serta dua anggota pasukan keamanan Iran.

Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)

Aksi protes dilaporkan telah menjangkau lebih dari 250 kota, desa, atau lokasi lain di 27 dari total 31 provinsi di Iran. Informasi tersebut dihimpun dari jaringan aktivis di dalam negeri yang dinilai memiliki rekam jejak akurat dalam melaporkan kerusuhan sebelumnya.

Aparat keamanan Iran disebut menggunakan tindakan kekerasan, terutama terhadap para demonstran di wilayah pedesaan. Situasi ini kemudian memicu meluasnya kembali aksi protes ke sejumlah kota besar, termasuk Teheran sebagai ibu kota serta Mashhad.

Di sisi lain, kantor berita Iran Fars yang memiliki kedekatan dengan Garda Revolusi melaporkan bahwa sekitar 250 personel kepolisian dan 45 anggota pasukan sukarelawan Basij mengalami luka-luka selama rangkaian aksi demonstrasi tersebut.

HIGHLIGHT

x|close