Singapura: Tarif Listrik Tak Naik meski Indonesia Pangkas Ekspor Gas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Okt 2026, 08:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Singapura Singapura (Pixabay)

Ntvnews.id, Singapura - Pemerintah Singapura menyatakan tarif listrik di negaranya diperkirakan tidak mengalami kenaikan dalam waktu dekat, meskipun Indonesia memutuskan mengurangi ekspor gas alam ke negara tersebut.

Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura, Tan See Leng, menjelaskan pengurangan pasokan gas dari Indonesia mencakup kurang dari dua persen dari total kebutuhan gas harian Singapura. Ia memastikan ketersediaan gas saat ini masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan domestik.

"Dalam jangka pendek, harga tidak akan terlalu berdampak. Faktanya, kita juga harus lebih memperhatikan harga dunia, karena harga satuan untuk sebagian besar gas kita sebenarnya dipatok pada pergerakan sejumlah indeks global utama," kata Tan, seperti dikutip Channel News Asia, Rabu, 28 Oktober 2026.

Tan menegaskan energi merupakan sektor vital bagi perekonomian dan keberlangsungan Singapura. Karena itu, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menjaga kestabilan pasokan, termasuk melalui diversifikasi sumber energi.

Baca Juga: Trump Tuduh Pemilu Brasil Penuh Kecurangan

"Kami selalu memandang energi sebagai bagian yang sangat krusial bagi perekonomian, keberlanjutan, dan kelangsungan hidup negara kita. Energi merupakan hal yang eksistensial bagi kita semua: oleh karena itu, kami telah menerapkan langkah-langkah kontingensi dan perlindungan untuk memastikan bahwa pasokan energi kita terdiversifikasi," imbuhnya.

Ia menjelaskan, Singapura memiliki sejumlah mekanisme perlindungan untuk mengantisipasi gangguan pasokan. Langkah tersebut meliputi diversifikasi sumber gas alam, pemeliharaan fasilitas penyimpanan gas alam cair (LNG), serta kesiapan Singapore GasCo untuk menambah impor LNG apabila diperlukan.

Tan juga meminta masyarakat Singapura tidak khawatir terhadap dampak pengurangan ekspor gas dari Indonesia dan tetap menjalankan kegiatan sehari-hari seperti biasa.

"Saya ingin mengimbau seluruh warga Singapura: tetaplah tenang dan jalankan aktivitas seperti biasa. Kita pernah mengalami pengurangan serupa di masa lalu dengan lancar tanpa insiden apa pun, dan pemerintah akan terus memastikan keandalan serta ketahanan pasokan energi Singapura," kata dia.

Selain mengandalkan gas alam, Singapura turut menjajaki sejumlah sumber energi alternatif, seperti biometana, panas bumi, dan tenaga surya. Pemerintah negara tersebut juga sedang mempelajari potensi pemanfaatan energi nuklir, meskipun belum mengambil keputusan terkait penerapannya.

Selama ini, Singapura memperoleh pasokan gas alam melalui jaringan pipa dari Indonesia dan Malaysia, serta impor LNG dari berbagai pemasok internasional. Pada 2025, gas yang disalurkan melalui pipa menyumbang 43 persen dari total impor gas Singapura, sedangkan LNG mencakup 57 persen.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa keputusan mengurangi ekspor gas ke Singapura dilakukan untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri yang mendesak.

Menurut Bahlil, kebijakan tersebut juga dipengaruhi oleh kegiatan pemeliharaan atau penghentian sementara operasi (shutdown) pada fasilitas produksi gas. Selain itu, pemerintah berupaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah risiko krisis energi global.

Menanggapi kebijakan Indonesia, Tan menegaskan hubungan bilateral kedua negara tetap terjalin baik, termasuk pada tingkat pemerintahan tertinggi. Ia juga memahami keputusan Indonesia untuk mendahulukan kebutuhan energi domestik.

"Kami memahami bahwa mereka (Indonesia) mungkin memiliki kebutuhan pasokan domestik serta kendala tertentu, dan kami dapat memaklumi hal tersebut," kata Tan See Leng.

x|close