Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan listrik dalam negeri sebelum melakukan ekspor ke negara lain, termasuk Singapura.
Terkait rencana ekspor listrik Indonesia ke Singapura, Bahlil menyebut keputusan tersebut masih dipertimbangkan.
"Tergantung kelakuan, baik atau tidak, ya," ucap Bahlil, Senin 26 Oktober 2026.
Lebih lanjut, Bahlil mengatakan Indonesia masih membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar untuk mendukung pertumbuhan industri dan pengembangan data center.
Baca Juga: Bahlil Buka-bukaan Nasib Impor BBM dari Singapura di Tengah Pemangkasan Ekspor Gas
"Indonesia sendiri masih butuh listrik gimana bos? Market apaan, kita kan lagi butuh, data center kita butuh 20 gigawatt. Kurang market apa kita?" lanjutnya.
Menurutnya, kebutuhan listrik domestik harus menjadi pertimbangan utama sebelum pemerintah memutuskan untuk mengekspor energi ke luar negeri.
"Saya tetap akan memprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri dulu. Setelah itu baru kita ekspor. Ini sesuai perintah Pasal 33 UUD 1945," tutupnya.
Sebelumnya di balik upacara kenegaraan yang menyambut kedatangan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin 6 Juli 2026 lalu terdapat agenda strategis yang akan menentukan arah baru kerja sama energi kedua negara.
Dari 26 kesepakatan yang ditandatangani, rencana ekspor listrik Indonesia ke Singapura menjadi salah satu pembahasan utama.
Rencana perdagangan listrik lintas batas menjadi bagian dari penguatan hubungan ekonomi kedua negara, khususnya dalam pengembangan energi hijau dan transisi energi.
Baca Juga: Bahlil Tegaskan Tak Ada Konflik dengan Singapura soal Pemangkasan Ekspor Gas
Namun, penyelesaian negosiasi harga tetap menjadi penentu agar kerja sama tersebut dapat segera diimplementasikan.
"Nah, terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Regulasi kita memang menempatkan harga itu di pemerintah. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," ucap Bahlil kala itu.
Kesepakatan harga yang seimbang dinilai penting agar ekspor listrik tidak hanya menjadi transaksi komersial, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi nyata bagi Indonesia serta mendukung keberlanjutan kerja sama energi dengan Singapura.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan listrik dalam negeri sebelum melakukan ekspor ke negara lain, termasuk Singapura. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)