SKK Migas Mulai Kurangi Ekspor Gas Indonesia ke Singapura

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Okt 2026, 14:33
thumbnail-author
Muhamad Ridha
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menenui awak media saat meninjau pemotongan baja fasilitas FPSO di Bahtera Haluan Lestari di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026). Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menenui awak media saat meninjau pemotongan baja fasilitas FPSO di Bahtera Haluan Lestari di Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Indonesia mulai mengurangi pasokan gas alam yang diekspor ke Singapura pada Sabtu, 24 Oktober. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto menyebut pengurangan dilakukan terhadap pasokan dari Natuna dan Sumatera.

“Mulai besok (Sabtu 24/10), kita kurangi ekspor gas ke Singapura. Dari Natuna 15 BBTUD, dari Sumatera 16 BBTUD,” ucap Djoko ketika ditemui dalam Malam Penganugerahan Penghargaan Energi Subroto 2026 di Jakarta pada Jumat malam, 23 Oktober.

Djoko menjelaskan, kebijakan tersebut hanya berdampak pada Singapura. Menurutnya, tidak ada negara lain yang mengalami pengurangan ekspor gas karena jalur pipa yang dimaksud terhubung ke negara tersebut.

“Nggak ada (negara lain). Pipanya kan ke Singapura aja,” tambahnya.

Baca Juga: Dorong Dekarbonisasi Regional, Pertamina Hulu Energi Siap Jadi Hub CCS di Asia

Kebijakan ini sejalan dengan pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia. Seusai mengikuti sidang kabinet pada Rabu, 21 Oktober, Bahlil sebelumnya menyampaikan rencana pemerintah untuk tidak memperpanjang ekspor gas ke negara tetangga.

Dalam pernyataannya, Bahlil juga mengingatkan negara lain agar berhati-hati dalam menyampaikan pandangan terhadap Indonesia.

“Jadi, kalau negara-negara lain mau pandangan lain untuk kita, hati-hati. Saya juga mungkin memikirkan untuk gas saya tidak perpanjang untuk ekspor ke negara tetangga,” kata Bahlil.

Pemerintah turut mempertimbangkan peninjauan kembali kebijakan ekspor gas guna mengoptimalkan pemanfaatannya di dalam negeri. Langkah tersebut berkaitan dengan rencana pengembangan industri hilirisasi petrokimia yang membutuhkan gas sebagai bahan baku.

Bahlil menjelaskan, selama ini sekitar 30 persen produksi gas Indonesia dialokasikan untuk ekspor, sedangkan 70 persen lainnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik. Komposisi tersebut akan dikaji kembali agar pasokan gas dapat mendukung pengembangan industri nasional.

Baca Juga: Menko Bahlil: Ekspor Gas Dievaluasi demi Industri Petrokimia

(Sumber: Antara)

x|close