Pasien Klinik dan IGD di Singapura Meningkat akibat Kabut Asap Kebakaran Hutan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Okt 2026, 08:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Covid Singapura Covid Singapura (Istimewa)

Ntvnews.id, Singapura - Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) melaporkan peningkatan jumlah pasien yang berobat ke klinik dan Instalasi Gawat Darurat (IGD) akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

Dalam keterangan resminya setelah menghimpun laporan dari sejumlah rumah sakit, MOH menyebut terjadi sedikit peningkatan kunjungan pasien ke IGD dan klinik. Meski demikian, kementerian tersebut tidak merinci jumlah pasien yang terdampak.

MOH memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus kematian maupun kondisi sakit akut yang parah akibat paparan kabut asap.

"Kami tak menemukan ada kasus yang perlu perawatan di unit perawatan intensif atau kematian akibat kabut asap," kata juru bicara MOH ketika ditanya mengenai kemungkinan peningkatan jumlah pasien rumah sakit akibat kabut asap, seperti dikutip dari The Straits Times, Rabu, 14 Oktober 2026.

Pada akhir September lalu, sebuah laporan mengungkap adanya peningkatan konsentrasi polutan akibat kabut asap yang berkaitan dengan bertambahnya kunjungan pasien ke IGD.

Laporan tersebut menemukan bahwa setiap kenaikan konsentrasi partikel polutan PM2,5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik di atas tingkat referensi berkaitan dengan peningkatan 3,2 persen kunjungan darurat akibat asma dan penyakit paru-paru dalam dua hari berikutnya.

Baca Juga: Jelang Indonesia vs Singapura, Prabowo Tekankan Sepak Bola sebagai Harga Diri dan Kebanggaan Bangsa

Sementara itu, sejumlah dokter dan tenaga medis melaporkan kenaikan 20–30 persen jumlah pasien yang mengalami gejala berkaitan dengan kabut asap. Keluhan tersebut meliputi pilek, sakit tenggorokan, bersin, iritasi mata, asma, ruam kulit, hingga gangguan pernapasan.

Pelaksana Tugas Direktur Medis Parkway Shenton, Sharon Ngoh, juga mengungkapkan adanya peningkatan kunjungan pasien pada Oktober dibandingkan dengan pertengahan September.

Ia menyebut jumlah pasien yang mengalami gangguan kesehatan terkait kabut asap meningkat sekitar 30 persen.

"Paparan kumulatif, bukan hanya satu hari kualitas terburuk, yang menjadi penyebab beban kesehatan," kata Sharon.

Ia juga menyampaikan bahwa keluhan kesehatan yang berkaitan dengan paparan kabut asap semakin banyak ditemukan.

"Kami melihat lebih banyak pasien mengeluhkan sakit kepala dan kelelahan, yang berhubungan dengan paparan kabut asap."

Sebelumnya, kualitas udara di Singapura sempat masuk kategori tidak sehat pada 4 September. Kondisi tersebut menjadi yang pertama dalam tiga tahun terakhir dan memicu kekhawatiran terhadap dampak polusi udara bagi kesehatan masyarakat.

Pada Selasa siang, kualitas udara di Singapura kembali berada dalam kategori tidak sehat dengan indeks polusi berkisar antara 128 hingga 174.

TERKINI

Load More
x|close