Menko Bahlil: Ekspor Gas Dievaluasi demi Industri Petrokimia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Okt 2026, 17:40
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Jumat (23/10/2026). Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia memberi keterangan ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Jumat (23/10/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan rencana pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan ekspor gas nasional. Langkah strategis ini diambil demi mengoptimalkan alokasi pasokan bagi kebutuhan konsumsi di dalam negeri, seiring dengan ambisi besar pemerintah untuk menggenjot pembangunan industri hilirisasi petrokimia.

“Ke depan, saya akan mencoba untuk melakukan exercise (kajian) ulang agar mengoptimalkan untuk konsumsi di dalam negeri, termasuk di dalamnya adalah bahan baku,” ujar Bahlil saat ditemui awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat (23/10).

Ia menjelaskan bahwa pemerintah secara serius tengah mendorong akselerasi pengembangan sektor industri hilirisasi petrokimia yang sangat bergantung pada ketersediaan gas sebagai bahan baku utamanya. Oleh karena itu, volume ekspor gas Indonesia yang ada saat ini dipandang perlu untuk dikaji ulang agar porsi pemanfaatannya bisa lebih berpihak pada kepentingan domestik.
 

Bahlil memaparkan bahwa dari total keseluruhan produksi gas nasional, komposisi saat ini berada di angka 30 persen untuk kebutuhan ekspor ke luar negeri, sementara 70 persen sisanya dialokasikan bagi pemenuhan konsumsi domestik. Perbandingan angka inilah yang nantinya akan ditinjau dan dievaluasi kembali oleh pihaknya.
 

Di sisi lain, ketika disinggung mengenai langkah taktis pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan ekspor gas ke negara-negara tetangga, Bahlil menegaskan bahwa setiap keputusan yang diambil telah melalui proses pertimbangan yang matang dari berbagai aspek.

“Pemerintah dalam membuat keputusan, setiap langkah sudah memikirkan semuanya. Yang jelas bahwa kami menghargai semua hubungan dengan siapa saja, tapi juga asas penghargaan harus sama juga, ya,” ungkap Bahlil.

Sebelumnya, saat meresmikan proyek Gas JNE#6 serta Fasilitas Produksi Lapangan Maha-South Hub, Bahlil sempat membocorkan rencana pembangunan pusat kawasan hilirisasi petrokimia baru yang akan dipusatkan di wilayah Kalimantan Timur dengan bertumpu pada pasokan bahan baku gas melimpah.

Ia menekankan bahwa penciptaan nilai tambah melalui hilirisasi harus berjalan beriringan dengan ditemukannya cadangan-cadangan gas baru yang dapat memperkuat ketahanan pasokan bahan baku di masa depan.

Adapun alasan kuat mengapa pemerintah memilih untuk membangun kawasan industri tersebut di luar wilayah ibu kota, seperti di Kalimantan Timur, adalah demi mewujudkan pemerataan ekonomi yang berkeadilan bagi daerah-daerah penghasil sumber daya alam.
 

“Dengan menciptakan hilirisasi di daerah, berarti menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan di daerah, nilai tambah di daerah, meningkatkan PNBP daerah, menjadikan daerah sebagai tuan di negerinya sendiri,” pungkas Bahlil.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close