Netanyahu Sebut Iran di Ambang Keruntuhan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Sep 2026, 07:16
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (Dok.Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pemerintahan Republik Islam Iran sudah berada di ambang kehancuran. Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu ketika meninjau pasukan Israel yang berada di wilayah selatan Suriah.

Dilansir dari AFP, Kamis, 10 September 2026, Netanyahu mengunjungi personel militer Israel yang ditempatkan di sisi Suriah Gunung Hermon, kawasan yang berada di perbatasan Israel dan Suriah. Dalam kunjungan itu, Netanyahu didampingi Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.

Netanyahu mengatakan Israel masih memiliki sejumlah tugas yang harus diselesaikan. Salah satu agenda yang disebutnya menjadi prioritas adalah menggulingkan pemerintahan Iran.

"Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Tugas utamanya adalah menjatuhkan rezim teror di Iran. Kami sangat dekat dengan itu," kata Netanyahu.

Selain menargetkan pemerintahan Iran, Netanyahu menilai kelompok-kelompok yang berada dalam jaringan pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah juga pada akhirnya akan mengalami kehancuran.

"Kami tahu seluruh poros itu pada akhirnya akan runtuh," ujarnya.

Istilah "poros" yang digunakan Netanyahu merujuk pada berbagai kelompok di Timur Tengah yang memperoleh dukungan dari Iran.

Baca Juga: Inggris Kecam Putra Netanyahu usai Komentari Sengketa Pulau dengan Argentina

Militer Israel telah mempertahankan keberadaannya di wilayah selatan Suriah dengan membentuk sebuah "zona keamanan" sejak pemerintahan Bashar al-Assad jatuh pada Desember 2024.

Pasukan Israel menguasai area yang sebelumnya berstatus sebagai zona penyangga dan berada di bawah patroli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wilayah tersebut berfungsi sebagai pemisah antara pasukan Israel dan Suriah di kawasan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sejak 1974.

"Kami tidak akan membiarkan tentara teroris mana pun membangun dirinya di perbatasan kami," kata Netanyahu.

Kunjungan terbaru Netanyahu ke wilayah tersebut bukan merupakan yang pertama. Ia sebelumnya telah mendatangi pasukan Israel di Suriah setidaknya dua kali, yakni pada Desember 2024, tidak lama setelah militer Israel menguasai zona penyangga, serta pada November 2025.

Sementara itu, Katz juga mengunjungi pasukan Israel yang berada di selatan Suriah sekitar dua pekan lalu. Kunjungan tersebut mendapat kecaman dari pemerintah Damaskus yang menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran terbuka terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Suriah.

Sebelumnya, Suriah dikenal sebagai sekutu dekat Iran ketika negara tersebut dipimpin Hafez al-Assad dan kemudian putranya, Bashar al-Assad. Suriah juga menjadi basis bagi kelompok paramiliter yang mendapat dukungan dari Teheran.

Ilustrasi - Siluet tentara dengan latar belakang bendera Iran dan bendera Israel <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Siluet tentara dengan latar belakang bendera Iran dan bendera Israel (Antara)

Namun, hubungan kedua negara berubah setelah pemerintahan Bashar al-Assad tumbang. Sejak saat itu, Israel telah melancarkan ratusan serangan udara di wilayah Suriah dan beberapa kali melakukan operasi darat ke negara tersebut.

Para pejabat Israel berulang kali menyatakan bahwa pasukan mereka akan tetap berada di zona keamanan tersebut. Bahkan, Israel disebut menginginkan area demiliterisasi yang lebih luas di wilayah tersebut.

Pernyataan terbaru Netanyahu mengenai kondisi Iran muncul ketika hubungan antara Teheran dan Washington kembali memanas.

Iran dan Amerika Serikat masih berada dalam kebuntuan terkait Selat Hormuz, jalur strategis yang memiliki peran penting bagi perdagangan energi global. Dalam sepekan terakhir, kedua pihak juga dilaporkan saling melancarkan serangan.

Konflik tersebut kini telah memasuki bulan keenam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari.

x|close