AS Hancurkan 5 Kapal Tanker Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Sep 2026, 06:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Otoritas Selat Teluk Persia (Persian Gulf Strait Authority/PGSA) Iran, lembaga yang bertanggung jawab atas lalu lintas maritim di Selat Hormuz, padmendatan, 23 Agustus 2026, mengumumkan bahwa kapal-kapal yang melanggar protokol Iran saat melintasi ja Otoritas Selat Teluk Persia (Persian Gulf Strait Authority/PGSA) Iran, lembaga yang bertanggung jawab atas lalu lintas maritim di Selat Hormuz, padmendatan, 23 Agustus 2026, mengumumkan bahwa kapal-kapal yang melanggar protokol Iran saat melintasi ja (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Militer Amerika Serikat (AS) mengklaim telah menghancurkan lima kapal tanker pengangkut minyak mentah Iran setelah Garda Revolusi Iran melancarkan dua serangan menggunakan rudal balistik terhadap kapal perang AS dalam dua hari terakhir.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan seluruh awak dari lima kapal tersebut telah diperintahkan untuk meninggalkan kapal sebelum serangan dilakukan.

Dilansir dari AFP, Kamis, 10 September 2026, Empat kapal tanker, yakni Kivik, Charminar, Horizon 1, dan Riesco, dihancurkan di kawasan Teluk Oman. Sementara itu, kapal Derya menjadi sasaran serangan di sekitar Pulau Kharg, Selat Hormuz. CENTCOM menyebut tindakan tersebut dilakukan sebagai respons atas upaya Iran menyerang kapal perang AS.

Tidak lama setelah serangan Amerika Serikat, media pemerintah Iran melaporkan adanya peluncuran rudal Iran yang diarahkan ke sasaran AS di Yordania. Namun, CENTCOM menyatakan belum memiliki informasi yang dapat disampaikan terkait laporan serangan di pangkalan udara Yordania.

Eskalasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian aksi saling serang antara Washington dan Teheran. Tiga hari sebelumnya, pasukan AS juga mengklaim menghancurkan tiga kapal tanker minyak Iran setelah Garda Revolusi Iran disebut berupaya menyerang kapal induk dan kapal perusak milik AS.

Di tengah meningkatnya ketegangan militer, pemerintahan Presiden Donald Trump turut memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran. Washington menjatuhkan sanksi kepada lebih dari dua lusin maskapai komersial dan swasta serta sejumlah penyedia layanan kargo asing.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan pihak-pihak yang masih melakukan bisnis dengan maskapai Iran.

"Ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang berbisnis dengan maskapai Iran yang tersisa: Anda berisiko dikeluarkan dari sistem keuangan global," kata Bessent.

Baca Juga: Korea Selatan Pertimbangkan Kirim Pasukan Militer ke Selat Hormuz

AS dan Iran juga terus berupaya menguasai jalur strategis Selat Hormuz. Sebelum perang berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dunia diketahui melewati jalur tersebut. Blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran telah menghambat ekspor minyak sekaligus memberikan tekanan terhadap perekonomian Iran.

Konflik antara kedua negara juga berdampak pada pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$99,46 per barel pada Selasa (8/9). Lonjakan harga energi tersebut menjadi tantangan politik bagi Trump dan Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan November.

Houthi dan Milisi Irak Perluas Serangan

Dampak konflik turut meluas melalui kelompok-kelompok yang mendapat dukungan Iran di kawasan Timur Tengah. Sejumlah pejabat regional mengatakan kepada Associated Press (AP) bahwa kelompok Houthi di Yaman membantu milisi Irak dalam merencanakan dan menjalankan serangan drone selama dua hari terhadap Arab Saudi.

Keterlibatan Houthi tersebut disebut dikonfirmasi oleh dua pejabat Saudi berdasarkan informasi intelijen serta seorang pejabat senior keamanan Irak. Mereka menyebut utusan Houthi bekerja dari sebuah ruang operasi yang dikelola oleh kelompok milisi Irak.

Para pejabat tersebut mengatakan Arab Saudi bersama AS kemudian melakukan serangan udara gabungan. Serangan itu disebut menewaskan sedikitnya 20 anggota milisi Irak, enam penasihat Iran, serta setidaknya satu pejabat Houthi. Seorang pejabat Houthi dan anggota milisi Irak turut mengonfirmasi kematian pejabat Houthi tersebut.

Namun, dua pejabat Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), organisasi payung milisi yang secara resmi menjadi bagian dari pasukan keamanan Irak, membantah terlibat dalam serangan terhadap Arab Saudi. Mereka juga menyangkal bahwa kelompok Houthi menjalankan aktivitas di bawah naungan PMF.

AP menyebut para pejabat dan anggota milisi tersebut memberikan keterangan secara anonim karena tidak memiliki kewenangan untuk berbicara kepada media. Sementara itu, Houthi tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Koordinasi antara kelompok milisi Irak dan Houthi disebut semakin intensif selama perang di Gaza. Pejabat Houthi dan sejumlah pejabat regional mengatakan kedua kelompok sebelumnya juga telah melakukan koordinasi dalam serangkaian serangan terhadap Israel.

"Strategi Iran dalam perang saat ini bersifat hibrida. Kami tidak berperang di satu front dan kami tidak menggunakan satu alat," kata Mahdi Mohammadi, penasihat ketua parlemen Iran, dalam unggahan media sosial pada Juni.

Serangan Saudi Ancam Jalur Minyak

Foto yang diambil dengan telepon seluler, menunjukkan kapal-kapal dagang yang terdampar di perairan Selat Hormuz, dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara, 29 Mei 2026 <b>(Antara)</b> Foto yang diambil dengan telepon seluler, menunjukkan kapal-kapal dagang yang terdampar di perairan Selat Hormuz, dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara, 29 Mei 2026 (Antara)

Tekanan terhadap Arab Saudi meningkat setelah kelompok Houthi menyatakan pemberlakuan blokade terhadap pelayaran Saudi di Laut Merah. Berdasarkan data ACLED, sejak akhir Juli kelompok Houthi telah melakukan lebih dari selusin serangan yang menyasar fasilitas minyak dan kapal tanker milik Arab Saudi.

Pada Selasa, 8 September 2026, sejumlah serangan dilaporkan menghantam fasilitas minyak serta beberapa fasilitas lainnya di wilayah selatan Arab Saudi. Pemerintah Saudi menyatakan lebih dari 70 orang mengalami luka-luka dalam serangan tersebut, termasuk perempuan dan anak-anak.

ACLED menyebut Arab Saudi kemudian menerapkan pola transit "gelap", salah satunya dengan menonaktifkan sinyal pelacakan kapal tanker minyak yang melintasi Laut Merah.

Baca Juga: Iran Perketat Aturan Kapal yang Melintas di Selat Hormuz

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik dengan Iran membuat Arab Saudi mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui Laut Merah. Namun, serangan Houthi kemudian mendorong peningkatan pengiriman minyak ke wilayah utara melalui Terusan Suez dan pipa SUMED di Mesir.

Menurut data Kpler, volume minyak yang melewati jalur tersebut meningkat dari sekitar 650.000 barel per hari pada Juni menjadi lebih dari 1,9 juta barel per hari pada Agustus.

"Kereta menuju kembalinya perang skala penuh sudah meninggalkan stasiun, dan tidak jelas apakah ada yang akan turun tangan untuk menghentikannya," kata Adam Baron, pakar Yaman dari New America.

Sementara itu, Elisabeth Kendall dari Girton College, University of Cambridge, menilai peningkatan eskalasi dapat mendorong Arab Saudi mengambil tindakan secara langsung terhadap Houthi. Kondisi tersebut juga dinilai dapat membuka peluang bagi kelompok Houthi memperluas pengaruhnya ke wilayah timur Yaman yang memiliki cadangan energi besar.

x|close