Ntvnews.id, Tel Aviv - Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah laporan media Israel Haaretz yang menyebut Netanyahu telah menerima peringatan dari Uni Emirat Arab (UEA) terkait rencana serangan Hamas sebelum 7 Oktober 2023.
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Selasa, 8 September 2026, kantor Netanyahu menegaskan bahwa tidak ada peringatan dari pemerintah UEA sebelum serangan tersebut terjadi.
"Tidak ada peringatan yang diberikan kepada Perdana Menteri dari Uni Emirat Arab sebelum 7 Oktober," kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan.
Dilansir dari Haaretz, Kamis, 10 September 2026, sebelumnya melaporkan, berdasarkan kutipan dari buku yang ditulis dua jurnalis surat kabar tersebut, bahwa Presiden UEA Mohammad bin Zayed sempat berbicara dengan Netanyahu sekitar 10 hari sebelum serangan Hamas.
Dalam percakapan itu, bin Zayed disebut menyampaikan informasi mengenai rencana Hamas dan pemimpinnya kala itu, Yahya Sinwar, untuk melancarkan operasi besar yang menyasar Israel.
Kementerian Luar Negeri UEA tidak secara langsung mengonfirmasi laporan tersebut. Namun, kementerian menyatakan: "bila diperlukan, semua informasi intelijen yang relevan telah dan terus dikomunikasikan antara entitas-entitas terkait."
UEA sendiri menjalin hubungan diplomatik dengan Israel pada 2021 melalui kesepakatan Abraham Accords.
Menurut laporan Haaretz, bin Zayed memperingatkan Netanyahu bahwa operasi Hamas berpotensi mengguncang stabilitas Timur Tengah sekaligus mengancam keberlangsungan Abraham Accords. Saat itu, terdapat indikasi Arab Saudi dan Israel sedang mendekati tahap untuk meresmikan hubungan kedua negara.
Haaretz menyebut Netanyahu merespons peringatan tersebut dengan "ketenangan yang relatif." Netanyahu dikabarkan mengatakan Israel telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai kemungkinan dan menilai ancaman serangan lebih mungkin berasal dari Tepi Barat.
Laporan Haaretz tersebut kemudian dikonfirmasi The Times of Israel (TOI) pada Selasa (8/9). TOI mengutip sumber dari Emirat yang menyatakan bahwa bin Zayed memang telah memperingatkan Netanyahu mengenai kemungkinan serangan Hamas.
Baca Juga: Puluhan Aksi Digelar di Israel, Warga Protes Pemerintahan Netanyahu
Pemberitaan tersebut muncul setelah media Israel berhaluan tengah, Yedioth Ahronoth, pada tahun lalu melaporkan bahwa pejabat intelijen Mesir telah memberi peringatan kepada Israel mengenai kemungkinan terjadinya serangan besar. Peringatan tersebut disampaikan tidak lama sebelum serangan 7 Oktober dengan menyebut "sesuatu yang besar akan terjadi".
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel. Kelompok tersebut juga membawa 251 orang sebagai sandera ke Gaza. Peristiwa itu menjadi hari paling mematikan bagi warga Yahudi sejak Holocaust.
Netanyahu Dikritik Rival Politik Menjelang Pemilu
Ilustrasi - Pasukan Hamas. (Antara)
Munculnya laporan bahwa Netanyahu telah mendapat peringatan mengenai rencana serangan besar Hamas terjadi menjelang pemilihan umum Israel yang akan digelar bulan depan.
Mantan kepala militer Israel Gadi Eisenkot, yang memimpin partai berhaluan tengah Yashar, yang dalam sejumlah survei kerap mengungguli Likud yang dipimpin Netanyahu, melontarkan kritik terhadap perdana menteri.
"Semakin banyak tanda yang menunjukkan bahwa Netanyahu secara membabi buta membawa Israel menuju bencana 7 Oktober," kata Eisenkot.
Eisenkot juga menyerukan pembentukan komisi penyelidikan negara untuk mengusut serangan 7 Oktober. Namun, usulan tersebut ditolak Netanyahu.
Mantan Perdana Menteri Israel sekaligus rival Netanyahu dalam pemilu, Naftali Bennett, juga menyampaikan kritik keras.
"Netanyahu menanggung tanggung jawab pribadi dan langsung atas kegagalan yang menyebabkan kematian ribuan warga Israel di masa jabatannya," kata Bennett.
Baca Juga: AHY Tegaskan Demokrat Mau Pemerintahan Prabowo Berhasil
Sementara itu, Ketua Partai Demokrat yang berhaluan tengah-kiri, Yair Golan, menyampaikan kritik melalui unggahan di platform X.
"Anda tahu, Anda mengabaikannya, Anda gagal, Anda yang harus disalahkan," tulis Golan kepada Netanyahu.
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 memberikan dampak besar terhadap Israel maupun masyarakat Palestina di Gaza yang ketika itu berada di bawah kendali Hamas.
Setelah serangan tersebut, militer Israel melancarkan perang di Gaza dengan target utama Hamas. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas menyebut lebih dari 73.650 warga Palestina telah tewas akibat konflik tersebut.
Komisi Penyelidikan PBB pada tahun lalu juga menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.
Arsip - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di markas militer Kirya di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa angkatan udara Israel menyerang Teheran dengan (Antara)