Israel Alami Krisis Air, Kok Bisa?

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Sep 2026, 01:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Bendera Israel/ist Bendera Israel/ist

Ntvnews.id, Tel Aviv - Israel mengalami gangguan pada sistem pasokan air setelah terjadi ledakan pertumbuhan alga di sepanjang pesisir Laut Mediterania. Fenomena tersebut berdampak pada sejumlah fasilitas desalinasi yang menjadi sumber utama air minum negara itu.

Media Israel Ynet melaporkan, limbah domestik yang belum melalui proses pengolahan dari Jalur Gaza diduga menjadi salah satu pemicu berkembangnya alga secara masif. Akibat kondisi tersebut, lima dari enam fasilitas desalinasi utama Israel di kawasan Mediterania terpaksa dihentikan sementara.

Meski demikian, para ilmuwan masih melakukan penelitian untuk memastikan dampak lingkungan serta faktor yang menyebabkan fenomena tersebut.

Dilansir dari Middle East Eye, Selasa, 8 September 2026, Perusahaan air nasional Israel, Mekorot, menyebut pertumbuhan alga telah mengganggu operasional sejumlah fasilitas desalinasi yang selama ini memasok sebagian besar kebutuhan air minum masyarakat.

Fasilitas desalinasi diketahui menyumbang sedikitnya 65 persen kebutuhan air minum Israel. Sebagian besar instalasi tersebut berada di kawasan pesisir sehingga rentan terhadap perubahan kondisi perairan.

"Peristiwa seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di Israel. Ini adalah peristiwa yang sangat langka," kata juru bicara Mekorot, Lior Gutman.

Lima fasilitas desalinasi utama yang ditutup sementara mencakup Ashkelon, Ashdod, Palmachim, Sorek A, dan Sorek B. Hanya satu dari enam fasilitas utama yang masih beroperasi.

Otoritas air Israel menyatakan sistem penyediaan air nasional sejauh ini masih dalam kondisi stabil.

Baca Juga: Militer Israel Gerebek 2 Sekolah di Palestina Saat Tahun Ajaran Baru Dimulai

Untuk menjaga ketersediaan air, pemerintah meningkatkan pasokan dari Danau Galilea, sumber air tanah, serta waduk. Penggunaan air untuk kebutuhan irigasi pertanian dan sejumlah fasilitas publik juga dibatasi.

Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan kerentanan sistem air Israel terhadap gangguan lingkungan, mengingat negara itu sangat bergantung pada fasilitas desalinasi yang sebagian besar dibangun di sepanjang garis pantai.

Limbah dari Gaza Jadi Sorotan

Sistem pengolahan air limbah di Gaza mengalami kerusakan berat selama konflik berlangsung. Kondisi itu membuat sebagian besar limbah tidak dapat diproses sebagaimana mestinya sebelum dialirkan ke laut.

Berdasarkan data yang dikutip Ynet dan otoritas Palestina, sekitar 40 ribu meter kubik air limbah yang belum diolah dilaporkan mengalir ke laut setiap hari.

Kepala Laboratorium Perubahan Iklim Universitas Ben-Gurion, Avner Gross, menjelaskan bahwa pertumbuhan alga dalam jumlah besar membutuhkan air dengan suhu hangat serta ketersediaan nutrisi seperti fosfor dan nitrogen.

Gross menyebut citra satelit memperlihatkan adanya kondisi serupa di sekitar Delta Nil, Mesir. Kawasan tersebut diketahui mendapat limpasan pertanian yang kemudian mengalir menuju Laut Mediterania.

"Dalam kasus kami, saat ini saya tidak memiliki penjelasan lain kecuali sumber polusi di Jalur Gaza selatan," kata Gross kepada Ynet.

Melalui unggahan di X, Gross menggambarkan kondisi Laut Mediterania yang semakin hangat akibat perubahan iklim seperti "bak mandi di bulan Agustus".

"Tambahkan polusi fosfor dan nitrogen, dan Anda akan mendapatkan ledakan alga yang mematikan," tulis Gross.

"Secara kebetulan, beberapa hari terakhir ini terjadi angin lemah dan stabil yang mencampur pupuk dari limbah di sepanjang pantai Israel. Sebuah badai yang sempurna," tambahnya.

Kepala eksekutif organisasi lingkungan Israel Zalu, Noga Armi, juga menilai kerusakan dan limbah yang berasal dari Gaza berpotensi berkontribusi terhadap fenomena tersebut.

"Hubungan ilmiahnya sudah terbukti dengan baik. Limbah kotoran yang tidak diolah yang dibuang ke laut dari Gaza adalah salah satu faktor yang berkontribusi terhadap insiden tersebut," kata Armi kepada Roya News.

Ilmuwan Belum Sepakat soal Penyebab

Ilustrasi air (pixabay) <b>(pixabay)</b> Ilustrasi air (pixabay) (pixabay)

Meski dugaan pencemaran dari Gaza mendapat perhatian, sejumlah ilmuwan belum sepakat bahwa limbah tersebut merupakan penyebab utama ledakan alga.

Ahli ekologi kelautan dari Institut Oseanografi Nasional Israel, Tamar Guy-Haim, menilai kemungkinan limbah dari Gaza menjadi faktor utama yang memicu fenomena tersebut relatif kecil, seperti dilaporkan Middle East Eye.

Organisme yang diduga memicu ledakan alga tersebut merupakan sianobakteri dari genus Synechococcus. Namun, jenis spesies secara pasti serta alasan pertumbuhannya yang mendadak masih menjadi objek penelitian.

Peneliti juga mempertimbangkan faktor lain yang mungkin berperan, termasuk peningkatan suhu Laut Mediterania, intensitas paparan sinar matahari, pergerakan arus laut, hingga badai yang menyebabkan air menjadi lebih keruh.

Peneliti dari Lembaga Penelitian Oseanografi dan Limnologi Israel, Or Bialik, mengaku belum pernah menemukan kondisi perairan seperti itu sebelumnya.

"Saya telah bekerja di Laut Mediterania untuk waktu yang lama dan belum pernah melihat hal seperti ini," kata Bialik kepada Haaretz.

"Airnya berwarna hijau seperti danau. Kekeruhannya sangat tinggi sehingga Anda tidak dapat melihat instrumen Anda setelah setengah meter," lanjutnya.

Berdasarkan keterangan sejumlah peneliti yang dikutip CNN dan Haaretz, fenomena tersebut pertama kali terdeteksi di sekitar Delta Nil. Selanjutnya, massa alga bergerak ke arah utara mengikuti arus laut.

Peneliti air Universitas Ben-Gurion, Edo Bar-Zeev, memperingatkan bahwa fenomena serupa berpotensi semakin sering terjadi apabila suhu Laut Mediterania terus meningkat akibat perubahan iklim.

"Bisa dipastikan bahwa ini bukan peristiwa sekali seumur hidup... Anda bisa berasumsi bahwa ini akan terjadi semakin sering akibat perubahan iklim," katanya kepada CNN.

Sampai saat ini, para ilmuwan belum dapat memastikan satu penyebab tunggal dari ledakan pertumbuhan alga tersebut.

Sejumlah kemungkinan masih diteliti, mulai dari pemanasan laut, pola arus alami, pencemaran dari kawasan Delta Nil, limbah yang belum diolah dari Gaza, hingga kombinasi berbagai faktor lingkungan.

x|close