Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya tidak menyesali keputusan untuk menyerang Qatar. Ia bahkan menyatakan puas pernah melancarkan serangan bom terhadap negara tersebut di tengah perang Israel di Gaza.
Netanyahu menyebut Qatar sebagai negara "bermusuhan". Menurutnya, Doha tidak memiliki hak untuk menentukan atau mendikte kebijakan Israel selama konflik di Gaza berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam wawancara dengan media Israel i24NEWS yang kemudian dibagikannya melalui media sosial pada Sabtu, 5 September 2026.
"Saya menyerang Qatar, saya juga membom dan menyerang mereka selama perang, dan mereka menyerang saya," kata Netanyahu, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa, 8 September 2026.
Dalam wawancara tersebut, Netanyahu juga membantah tudingan yang berkembang di Israel mengenai aliran dana dari Qatar ke Gaza. Ia menepis anggapan bahwa dana tersebut digunakan untuk kepentingan selain memberikan bantuan.
Pernyataan Netanyahu disampaikan beberapa hari menjelang peringatan satu tahun serangan Israel terhadap Doha yang berlangsung pada 9 September 2025.
Baca Juga: Militer Israel Gerebek 2 Sekolah di Palestina Saat Tahun Ajaran Baru Dimulai
Serangan tersebut menyasar pertemuan sejumlah anggota Hamas yang tengah membahas proposal gencatan senjata di Gaza yang didukung Amerika Serikat. Dalam serangan itu, lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar dilaporkan tewas.
Qatar selama ini memiliki peran penting dalam upaya mediasi antara Israel dan Hamas. Doha juga menjadi lokasi kantor politik Hamas sejak 2012, setelah keberadaan kantor tersebut diminta oleh Amerika Serikat.
Pemerintah Qatar mengecam serangan Israel dan menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap semua hukum dan norma internasional". Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, juga menyebut serangan tersebut sebagai tindakan "pengecut".
Kecaman terhadap serangan itu turut datang dari sejumlah negara di kawasan, termasuk Iran dan Pakistan. Pemimpin Yordania, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi bahkan mendatangi Qatar tidak lama setelah serangan sebagai bentuk dukungan dan solidaritas.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga mengecam aksi tersebut dan menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Qatar.
Pada bulan yang sama, Netanyahu bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghubungi Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Gedung Putih.
Dalam pertemuan tersebut, Netanyahu menyampaikan permintaan maaf atas serangan Israel yang sebelumnya menargetkan Doha.
Arsip - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara di markas militer Kirya di Tel Aviv, Israel, 1 Maret 2026. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa angkatan udara Israel menyerang Teheran dengan (Antara)