Wapres Filipina Bayar Uang Jaminan Rp101 Juta untuk Keselamatan Dirinya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Sep 2026, 07:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Wakil Presiden Filipina Sara Duterte berbicara saat konferensi pers di Kota Mandaluyong, Filipina, 7 Februari 2025. ANTARA/Xinhua/Str Wakil Presiden Filipina Sara Duterte berbicara saat konferensi pers di Kota Mandaluyong, Filipina, 7 Februari 2025. ANTARA/Xinhua/Str (Antara)

Ntvnews.id, Manila - Wakil Presiden Filipina Sara Duterte mendatangi pengadilan di Manila secara sukarela pada Sabtu, 5 September 2026. Kedatangannya dilakukan untuk membayar uang jaminan sebesar 360.000 peso atau sekitar Rp101,35 juta.

Dilansir dari AFP, Rabu, 9 September 2026, Pembayaran tersebut dilakukan sehari setelah pengadilan menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Sara terkait dugaan ancaman pembunuhan kepada Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr.

Perkara tersebut bermula dari dakwaan ancaman berat yang diajukan terhadap Sara pada bulan sebelumnya.

Kasus itu berkaitan dengan pernyataan Sara dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada larut malam. Dalam kesempatan tersebut, ia mengaku telah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Presiden Marcos, istrinya, serta sepupunya yang merupakan anggota kongres jika dirinya terlebih dahulu dibunuh.

Namun, Sara kemudian memberikan klarifikasi dengan menyebut pernyataannya telah disalahartikan.

Baca Juga: Sepupu Presiden Filipina Didakwa Kasus Korupsi Proyek Banjir

Dugaan ancaman pembunuhan itu juga menjadi salah satu bagian penting dalam proses pemakzulan Sara Duterte yang kini tengah berlangsung di Senat Filipina.

Jika dinyatakan bersalah dalam proses tersebut, Sara dapat kehilangan jabatannya sebagai wakil presiden dan dilarang terlibat dalam kegiatan politik seumur hidup.

Kondisi itu sekaligus berpotensi menggagalkan ambisinya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan presiden Filipina 2028. Sara sendiri telah menyatakan rencana pencalonannya pada Februari 2026.

Sara Khawatir Keselamatan

Pengacara Sara Duterte, Lawrence Lim, mengatakan kliennya bersikap kooperatif dan tidak berusaha menghindari proses hukum.

"Wakil Presiden secara sukarela menghadap pengadilan yang mengeluarkan surat perintah tersebut, sehingga tidak perlu ada penangkapan," ujar Lim, dikutip dari AFP.

Pernyataan tersebut disampaikan Lim setelah Sara meninggalkan gedung pengadilan. Ia membawa dokumen yang mengonfirmasi bahwa uang jaminan tunai sebesar 360.000 peso telah dibayarkan.

Lim juga menjelaskan bahwa Sara menjalani prosedur administratif standar, termasuk pengambilan sidik jari. Namun, aparat tidak mengambil foto tahanan atau mugshot.

Dalam pernyataan resminya, Sara yang kini berusia 48 tahun mengatakan keputusan membayar uang jaminan dilakukan berdasarkan rekomendasi tim hukumnya. Langkah tersebut dinilai dapat memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap dirinya.

"Mereka menjelaskan bahwa saya akan mendapatkan perlindungan lebih baik dari masyarakat sipil yang bisa memantau situasi saya, dibandingkan jika saya dalam tahanan, saya akan terisolasi dan minim perlindungan," katanya.

Sebelum memasuki gedung pengadilan, Sara juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait keselamatan dirinya kepada wartawan. Ia bahkan mengaku menjadi korban pelecehan oleh aparat kepolisian.

"Saya tidak mau (membayar jaminan) kalau tak ada yang mengawasi," tuturnya.

"Apakah mereka akan menjebloskan saya ke penjara lalu suatu malam saya mati saat sedang tidur?" tambahnya.

Arsip - Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos (depan) mendengarkan State of the Nation Address keduanya di Quezon City, Filipina, Senin (24/7/2023). <b>(ANTARA)</b> Arsip - Presiden Filipina Ferdinand Romualdez Marcos (depan) mendengarkan State of the Nation Address keduanya di Quezon City, Filipina, Senin (24/7/2023). (ANTARA)

Sebelumnya, tim hukum Sara pada Jumat, 4 September 2026 menegaskan bahwa klien mereka tidak memiliki niat untuk menghindari proses hukum. Mereka menyatakan Sara akan tetap menggunakan seluruh jalur hukum yang tersedia.

Istana Kepresidenan Filipina menanggapi tuduhan Sara Duterte dengan membantah pernyataannya. Pemerintah menyebut tudingan tersebut "tidak berdasar".

Istana Malacanang juga menegaskan bahwa kepolisian menjalankan tugasnya untuk memberikan perlindungan kepada seluruh warga Filipina.

"Pemerintahan ini tidak akan pernah membiarkan polisi digunakan untuk melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun," tulis Istana Malacanang dalam pernyataan resminya.

x|close