Mojtaba Khamenei Serukan Negara Muslim Bersatu Hadapi "Musuh Sebenarnya"

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Agu 2026, 06:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyerukan negara-negara Muslim, terutama negara-negara di kawasan Teluk, untuk memperkuat persatuan dalam menghadapi pihak yang disebutnya sebagai "musuh sebenarnya".

Menurut Khamenei, perpecahan di antara negara dan masyarakat Muslim justru dapat memberikan keuntungan bagi pihak yang menjadi lawan mereka.

Dilansir dari Reuters, Senin, 31 Agustus 2026, seruan tersebut disampaikan melalui akun Telegram Khamenei dalam rangka memperingati Pekan Persatuan Islam, yang bertepatan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam pesannya, Khamenei mendorong persatuan antarumat Muslim, peningkatan kerja sama di berbagai sektor, serta penguatan pertahanan bersama. Ia menilai pihak mana pun yang berupaya memecah belah umat Muslim, "secara sadar atau tidak sadar," pada akhirnya turut membantu kepentingan musuh Islam.

Pesan tersebut juga menyinggung kondisi Palestina. Khamenei mempertanyakan apakah masyarakat Palestina akan tetap berada dalam kondisi "begitu tak berdaya" apabila negara-negara dan umat Muslim mampu membangun persatuan.

Khamenei hingga kini belum tampil di hadapan publik sejak mengalami luka dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel sekitar enam bulan lalu. Serangan tersebut memicu perang dengan Iran dan menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang sebelumnya menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Baca Juga: Iran Rilis Video Mojtaba Khamenei di Tengah Isu Kondisi Kesehatan Kritis

Seruan mengenai persatuan itu sejalan dengan pernyataan Khamenei kepada masyarakat Iran pada Jumat, 28 Agustus 2026. Saat itu, ia mengatakan telah melarang berbagai tindakan yang dapat merusak kohesi sosial.

Ia juga meminta pejabat pemerintah menghindari "pernyataan yang mengecewakan" yang dinilai berpotensi menurunkan semangat nasional serta moral masyarakat.

Dalam pesannya, Khamenei secara khusus menyampaikan pertanyaan kepada para pemimpin negara-negara Arab di kawasan Teluk. Ia mempertanyakan apakah "para penjahat tanpa identitas" akan berani mengincar wilayah dan kekayaan mereka apabila rakyat serta pemerintah negara-negara Teluk telah "bersatu di bawah bendera Islam."

Sejak Revolusi Islam Iran pada 1979, negara-negara monarki di kawasan Teluk memandang ideologi revolusioner Teheran sebagai salah satu ancaman terhadap sistem politik mereka. Kekhawatiran tersebut mencakup retorika anti-monarki serta upaya Iran memperluas pengaruhnya di kawasan.

Ketegangan antara Iran dan negara-negara tetangganya di Teluk juga terlihat selama konflik yang berlangsung saat ini. Teheran diketahui melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS dan infrastruktur lainnya yang berada di negara-negara kawasan Teluk.

Khamenei kemudian kembali menyerukan para pemimpin negara Muslim untuk menentukan pihak yang dianggap sebagai ancaman utama dan menghadapi persoalan tersebut secara bersama-sama.

"Rekomendasi saya yang tegas dan berulang kali kepada para penguasa negara-negara Islam, terutama negara-negara Asia Barat dan Teluk, adalah untuk mengidentifikasi musuh sejati Anda, memahami rencananya, dan menghadapinya," kata Khamenei.

TERKINI

Load More

HIGHLIGHT

x|close