Ntvnews.id, Jakarta - Suasana khidmat menyelimuti proses penentuan Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), muktamirin menitipkan amanah kepada sembilan masyayikh terpilih untuk menentukan Rais Aam melalui musyawarah mufakat.
Hasil akhir tabulasi menempatkan tiga nama pada posisi teratas. KH Nurul Huda Djazuli dari Pesantren Al-Falah Ploso meraih 485 suara, disusul TGK KH Nuruzzahri Yahya atau Waled Nu dengan 477 suara, serta AG Dr KH Baharuddin HS, MA dengan 392 suara. Meskipun angka tersebut merupakan suara pemilihan anggota AHWA—bukan pemilihan langsung Rais Aam—besarnya dukungan muktamirin memperlihatkan legitimasi keulamaan ketiganya.
Banyak anasir bermunculan di arena muktamar bahwa ketiga nama tersebut kuat akan terpilih di antara 9 AHWA yang telah ditetapkan muktamirin.
Jika melihat dari posisi dukungan tentu Kiai Huda Djazuli adalah yang paling kuat menjadi Rais ‘Aam. Seraya, harapan dan dukungan besar kepada Kiai Huda yang digantungkan oleh para muktamirin.
Terlepas dari sisi pemilihan Rais ‘Aam, juga menarik melihat proses pemilihan Tanfidzyah. Gus Kikin sebagai salah satu kandidat kuat yang digadang-gadang menjadi PBNU 1. Karena erat kaitanya Tanfidzyah, akan ditetapkan oleh Rais ‘Aam terpilih.
Merespons situasi itu, Abi Rekso selaku Juru Bicara Tim Qonun Asasi (Qonas) memberi penjelasan kepada awak media.
Dirinya menjelaskan, Gus Kikin mempunyai hubungan yang cukup erat dengan Kiai Huda berakar pada sanad dan persaudaraan pesantren Ploso–Tebuireng. Ayah Kiai Huda, KH Ahmad Djazuli Utsman, merupakan santri langsung Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, sementara Gus Kikin merupakan dzurriyah sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng.
Sehubungan hubungan dengan Waled Nu bertemu dalam sanad keilmuan Jombang–Tebuireng. Waled Nu pernah menempuh pendidikan di lingkungan Jombang dan Tebuireng serta memiliki kedekatan historis dengan Gus Dur, sehingga komunikasi keduanya tidak hanya berada dalam jalur organisasi, tetapi juga bertumpu pada ikatan kultural pesantren.
Kedekatan Gus Kikin dengan AG Baharuddin terlihat semakin erat melalui silaturahmi langsung di Makassar pada 14 Agustus 2026. Gus Kikin berkunjung ke kediaman AG Baharuddin, menghadiri forum Pembumian Qanun Asasi, serta menyerahkan buku Syarah Al-Qanun Al-Asasi dan terjemahan Qanun Asasi kepada Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan tersebut.
“Sepanjang saya pahami, Gus Kikin memiliki hubungan baik kepada 3 Kiai perolehan dukungan teratas. Kita serahkan kepada AHWA untuk menentukan Rais ‘Aam yang amanah. Dan memberikan penguatan untuk PBNU masa depan,” ujar Abi Rekso, Minggu, 30 Agustus 2026.
Abi juga menjelaskan bahwa dengan mekanisme yang menjadi persetujuan forum musyawarah. Dengan mekanisme yang diusulkan Muktamirin dan kemudian ditetapkan oleh AHWA, tetap optimis. Dan sepenuhnya percaya pada kebijaksanaan para Kiai.
“Kita percayakan semua kepada para Kiai, kita juga belum tahu kesediaan beliau-beliau untuk menjadi Rais ‘Aam. Siapapun yang akan terpilih nanti Insha Allah tetap yang terbaik bagi Gus Kikin dan PBNU masa depan,” tandas Abi Rekso.
Gus Kikin.