Senator AS Pendukung Israel Meninggal Usai ke Ukraina, Diduga Dianiaya Rusia-Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jul 2026, 12:51
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Senator senior Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Lindsey Graham, Senator senior Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Lindsey Graham, (PBS)

Ntvnews.id, Jakarta - Senator senior Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Lindsey Graham, meninggal dunia pada usia 71 tahun, Sabtu (11/7) malam waktu setempat. Kabar wafatnya politikus yang selama ini dikenal sebagai pendukung kuat Israel, Ukraina, sekaligus salah satu tokoh yang vokal mendorong tekanan terhadap Iran itu langsung menyita perhatian publik.

Kepergian Graham juga memicu berbagai spekulasi di media sosial. Sebab, ia meninggal hanya sehari setelah menyelesaikan kunjungan ke Kyiv, Ukraina. Sejumlah pihak kemudian mengaitkan kematiannya dengan Rusia maupun Iran, meski hingga kini belum ada bukti yang mendukung dugaan tersebut.

Kantor resmi Graham, seperti dikutip BBC dan Al Jazeera, Senin (13/7/2026), menyatakan senator yang mewakili negara bagian South Carolina itu meninggal akibat "sakit mendadak".

Juru bicara kantor Graham kemudian menjelaskan, hasil pemeriksaan awal dari tim medis menunjukkan penyebab kematiannya adalah pecahnya aorta, yakni arteri utama yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh.

Sejauh ini, otoritas AS juga tidak menemukan indikasi adanya unsur tindak pidana atau kesengajaan dalam kematian Graham. Selain itu, dilaporkan pula bahwa senator tersebut memiliki riwayat penyakit jantung dalam keluarganya.

Trump turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Graham. Ia menyebut senator senior itu sebagai "patriot Amerika sejati" yang akan "sangat dirindukan".

Kepada NBC News, Trump mengungkapkan bahwa dirinya sempat berbicara dengan Graham beberapa jam sebelum meninggal dunia. Menurut Trump, saat itu Graham "terdengar baik-baik saja", meski terlihat sedikit kelelahan.

Sebelum meninggal, Graham baru saja kembali dari Kyiv. Dalam kunjungannya pada Jumat (10/7) waktu setempat, ia bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan kembali menegaskan dukungannya terhadap bantuan militer AS untuk Ukraina serta sanksi yang lebih keras terhadap Rusia.

Baca Juga: Jurnalis NTVNews.id Raih Juara 2 JNE Content Competition 2026

Tidak ada laporan mengenai gangguan kesehatan yang dialami Graham selama perjalanan tersebut. Atas wafatnya Graham, Zelensky mengaku sangat kehilangan. Dalam pernyataannya melalui media sosial X, Presiden Ukraina itu mengatakan dirinya "sangat berduka" atas meninggalnya senator senior AS tersebut.

Selain dikenal sebagai pendukung utama bantuan persenjataan untuk Ukraina, Graham juga merupakan pendukung invasi militer AS ke Irak. Ia selama bertahun-tahun mendorong langkah militer terhadap Iran serta menjadi salah satu pendukung paling vokal bagi Israel.

Graham juga secara konsisten mendukung kebijakan pemerintahan Trump dalam menghadapi Teheran. Bahkan, dalam wawancara dengan CBS bulan lalu, ia mengatakan AS akan "meluluhlantakkan" Iran apabila negara tersebut tidak tunduk pada kendali AS atas Selat Hormuz. Pernyataan itu menjadi salah satu wawancara televisi terakhirnya.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut Graham sebagai "salah satu sahabat terbesar" Israel.

Baca Juga: IRGC Klaim Perang Fasilitas Pendukung Kapal Induk AS di Oman

Spekulasi Rusia dan Iran Bermunculan

Kematian Graham yang terjadi secara mendadak kemudian memicu gelombang teori konspirasi di media sosial, terutama di kalangan pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA).

Sejumlah aktivis dan influencer MAGA menuding Rusia atau Iran kemungkinan berada di balik kematian senator tersebut. Dugaan itu muncul karena Graham wafat hanya sehari setelah berkunjung ke Ukraina dan kembali menyerukan peningkatan sanksi terhadap Rusia.

Spekulasi juga diperkuat oleh adanya ancaman pembunuhan terhadap Graham yang sebelumnya pernah dilontarkan Iran. Meski demikian, hingga kini otoritas AS tetap menyatakan tidak ada bukti yang menunjukkan adanya tindak kejahatan.

Rumor semakin berkembang setelah media pemerintah Iran dilaporkan merayakan kematian Graham dengan menyebut senator AS itu telah "dikirimkan ke neraka".

Di saat yang sama, Direktur FBI Kash Patel menyatakan pihaknya ikut membantu proses penanganan kasus tersebut.

x|close