33 Negara Siaga Darurat Pangan, Mentan Amran Pastikan Indonesia Aman

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Nov 2026, 12:15
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kedua kiri) menjawab pertanyaan awak media ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa, 1 September 2026 Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kedua kiri) menjawab pertanyaan awak media ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa, 1 September 2026 (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dunia yang berpotensi mengganggu rantai pasok dan memicu krisis pangan global, Indonesia patut bersyukur karena kondisi pangan nasional relatif aman. 

Menurutnya ketika sedikitnya 33 negara mulai mendorong masyarakatnya menyiapkan persediaan makanan, air minum, obat-obatan, dan kebutuhan dasar untuk menghadapi situasi darurat, Indonesia memiliki kekuatan produksi pangan dalam negeri dan cadangan beras yang kuat.

Mentan Amran menyebut kondisi itu merupakan hasil kerja keras petani, dukungan pemerintah, serta kebijakan strategis dalam memperkuat produksi dan mewujudkan kemandirian pangan nasional. 

Kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangan sendiri menjadi sangat penting di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian.

"Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga," ujar Mentan Amran dalam keterangan tertulis, Senin 2 November 2026.

Baca juga: Survei 2 Tahun Prabowo-Gibran: Seskab Teddy Puncaki Pejabat Berkinerja Terbaik, Mentan Amran Menyusul

Kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan krisis kini menjadi perhatian banyak negara. Sedikitnya 33 negara mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk memiliki persediaan kebutuhan dasar di rumah, termasuk makanan tahan lama, air minum, obat-obatan, dan perlengkapan darurat. 

Sejumlah negara merekomendasikan stok kebutuhan rumah tangga untuk minimal 72 jam sebagai langkah antisipasi terhadap berbagai kemungkinan gangguan.

Inggris dan Jepang termasuk negara yang memperkuat imbauan tersebut. Pemerintah Inggris mendorong setiap rumah tangga memiliki persediaan makanan dan air minum untuk kebutuhan minimal tiga hari.

 
 
 
View this post on Instagram

A post shared by NTVNow (@ntv.now)

 

Jepang juga mengimbau masyarakat memperkuat kesiapsiagaan dengan menyimpan persediaan kebutuhan pokok setidaknya untuk tiga hari, bahkan hingga satu minggu jika memungkinkan.

Langkah tersebut merupakan bagian dari antisipasi terhadap berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, bencana alam, cuaca ekstrem, serangan siber yang dapat mengganggu infrastruktur, hingga terhambatnya rantai pasok dan distribusi kebutuhan pokok. 

Situasi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan ketersediaan kebutuhan dasar menjadi perhatian serius banyak negara di tengah ketidakpastian global.

Mentan Amran menjelaskan Indonesia memiliki modal kuat untuk menghadapi ketidakpastian tersebut. Per 26 Oktober 2026, cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton. 

Selain itu, terdapat sekitar 10 juta ton potensi beras dari standing crop atau tanaman padi yang siap dipanen serta sekitar 10 juta ton stok yang berada di sektor hotel, restoran, dan katering (horeka). 

Baca juga:Mentan Amran: Temuan Beras SPHP Dioplos Bukti Mafia Pangan Ada

Secara keseluruhan, ketersediaan beras nasional diperkirakan mencapai sekitar 25 juta ton, sementara kebutuhan beras nasional berada di kisaran 2,5 juta ton per bulan.

“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat. Ini yang membuat kita lebih siap menghadapi berbagai gejolak global,” ungkapnya.