Ntvnews.id, Jakarta - China kembali mencatatkan terobosan di bidang teknologi komunikasi.
Tim peneliti asal Negeri Tirai Bambu mengklaim berhasil mencapai kecepatan transfer data hingga 3,2 petabit per detik (Pb/s) melalui jaringan serat optik.
Kecepatan luar biasa ini memungkinkan data setara lebih dari 20.000 film beresolusi 4K ditransfer hanya dalam satu detik, berdasarkan perbandingan kapasitas dalam kondisi ideal.
Melansir TechRadar, Senin (2/11/2026), para peneliti menyebut pencapaian tersebut sebagai rekor baru untuk transmisi data secara real-time menggunakan serat optik 24 inti.
Hasil ini sekaligus melampaui rekor sebelumnya sebesar 2,5 Pb/s yang dicapai tim tersebut pada awal 2026 dengan teknologi serat optik serupa.
Bagaimana China Mencapai Kecepatan 3,2 Petabit per Detik?
Proyek penelitian ini melibatkan sejumlah lembaga dan perusahaan teknologi, di antaranya Laboratorium Kunci Nasional Teknologi Komunikasi Optik (State Key Laboratory of Optical Communication Technologies and Networks), Grup Teknologi Informasi dan Komunikasi Tiongkok (China Information and Communication Technology Group/CICT), Laboratorium Pengcheng, serta Fiberhome Fujikura Fiber Optic Technology.
Untuk mencapai kecepatan tersebut, tim menggabungkan dua teknologi utama, yakni spatial division multiplexing (multiplexing pembagian ruang) dan transmisi multi-band S+C+L.
Teknologi multiplexing pembagian ruang memungkinkan satu kabel serat optik membawa beberapa saluran data secara bersamaan. Dengan begitu, kapasitas transmisi dapat ditingkatkan tanpa harus menggunakan banyak kabel terpisah.
Sementara itu, teknologi multi-band S+C+L memanfaatkan tiga rentang panjang gelombang berbeda dalam spektrum optik. Kombinasi ini memungkinkan lebih banyak informasi dikirim melalui jaringan serat optik.
Namun, menggabungkan kedua teknologi tersebut bukan perkara mudah. Para peneliti harus mengatasi gangguan atau interferensi antara saluran-saluran data yang berdekatan.
Selain itu, karakteristik setiap pita panjang gelombang juga harus dikelola agar tidak mengganggu kualitas transmisi.
Menariknya, pengujian ini berhasil dilakukan menggunakan arsitektur perangkat keras yang disebut telah memenuhi persyaratan komersial dan mampu beroperasi secara langsung dalam waktu nyata.
Hal tersebut menjadi salah satu keunggulan penelitian ini dibandingkan demonstrasi laboratorium yang mengandalkan perangkat eksperimental atau pemrosesan sinyal khusus.
Setara Koneksi Internet 3,2 Juta Rumah Tangga
Besarnya kapasitas transmisi 3,2 Pb/s tentu sulit dibayangkan jika hanya dinyatakan dalam angka. Untuk memberikan gambaran, situs web pemerintah Provinsi Hubei membandingkan kapasitas tersebut dengan koneksi internet berkecepatan 1 Gbps yang digunakan secara bersamaan oleh sekitar 3,2 juta rumah tangga.
Bahkan, kapasitasnya disebut cukup untuk mentransfer lebih dari 20.000 film beresolusi 4K hanya dalam satu detik.
Meski terdengar fantastis, angka tersebut merupakan ilustrasi kapasitas jaringan secara teoritis dalam kondisi ideal.
Artinya, bukan berarti pengguna internet rumahan bisa langsung menikmati kecepatan transfer sebesar itu melalui layanan broadband biasa.
Rekor Laboratorium Masih Lebih Tinggi
Meski mencapai angka fantastis, kecepatan 3,2 Pb/s ternyata belum menjadi rekor tertinggi yang pernah dilaporkan dalam penelitian serat optik 24 inti.
Sejumlah eksperimen laboratorium sebelumnya bahkan berhasil mencapai kecepatan hingga 5,29 Pb/s menggunakan teknologi serat multi-inti yang sebanding.
Namun, pencapaian tersebut dapat melibatkan perangkat laboratorium khusus dan metode pemrosesan tingkat lanjut yang belum tentu siap diterapkan pada jaringan telekomunikasi sehari-hari.
Karena itu, penggunaan perangkat keras yang memenuhi standar komersial menjadi poin penting dalam demonstrasi terbaru tim peneliti China.
Meski demikian, keberhasilan pengujian secara langsung belum otomatis menjamin teknologi tersebut bisa segera digunakan secara luas.
Masih ada sejumlah tantangan yang perlu dijawab, mulai dari keandalan jaringan dalam jangka panjang, biaya operasional, hingga kompatibilitas dengan infrastruktur telekomunikasi yang sudah tersedia.
Hingga kini, belum ada jadwal resmi penerapan komersial, informasi harga, maupun hasil evaluasi independen terkait kinerja teknologi tersebut dalam operasional jaringan sehari-hari.
Terlepas dari itu, penelitian ini menunjukkan potensi besar pengembangan teknologi serat optik untuk meningkatkan kapasitas komunikasi data di masa depan.
Jika nantinya dapat diterapkan secara luas, teknologi semacam ini berpeluang mendukung kebutuhan transfer data berkapasitas besar, mulai dari pusat data, layanan komputasi awan, hingga infrastruktur internet generasi berikutnya.
Ilustrasi. (Foto: Department of Economy and Information Technology of Hubei Province)