Ntvnews.id, New York - Bank Dunia memperkirakan harga komoditas dunia mengalami kenaikan hingga 23 persen sampai akhir 2026. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya harga energi akibat perang di Iran, serta kenaikan harga pangan yang dipengaruhi konflik global dan fenomena iklim El Nino.
Dalam laporan Commodity Markets Outlook yang dikutip dari TRT World, Senin, 2 November 2026, Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia Ayhan Kose menyebut pasar komoditas internasional sedang menghadapi beberapa tekanan besar secara bersamaan.
"Biaya energi yang lebih tinggi dan gangguan perdagangan mendorong kenaikan harga berbagai komoditas. Kondisi ini mengancam memperburuk inflasi, kerawanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi," kata Kose dalam pernyataan yang menyertai peluncuran laporan tersebut.
Baca Juga: Beda Standar Hitung, BPS Jelaskan Angka Kemiskinan Versi Bank Dunia
Bank Dunia memproyeksikan harga pangan naik 10 persen sepanjang 2026. Kenaikan diperkirakan berlanjut sebesar 7 persen pada tahun berikutnya.
Sejumlah faktor menjadi pemicu, mulai dari terganggunya distribusi biji-bijian akibat konflik, dampak El Nino ekstrem, hingga meningkatnya harga bahan bakar dan pupuk.
El Nino merupakan fenomena iklim alami yang diperkirakan menyebabkan kenaikan suhu di sebagian besar wilayah dunia pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memperparah dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Bagi sektor pertanian dan produsen pangan, fenomena ini dapat meningkatkan ancaman banjir, kekeringan, serta tekanan panas di berbagai wilayah.
Dalam laporan yang sama, Bank Dunia memperkirakan harga energi global melonjak 32 persen pada 2026, sebelum mengalami perlambatan pada 2027. Perkiraan tersebut menggunakan asumsi bahwa konflik di Iran maupun Ukraina tidak semakin meluas.
Kenaikan harga energi dan pupuk dunia terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari. Konflik tersebut kemudian memicu eskalasi kekerasan di kawasan Timur Tengah.
Bank Dunia
Iran merespons serangan tersebut dengan menggempur sejumlah sekutu AS di kawasan. Teheran juga secara efektif menghentikan sebagian besar aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak, gas alam, dan pupuk dunia.
Bank Dunia mengingatkan kombinasi sejumlah risiko dapat memicu krisis pangan. Ancaman tersebut mencakup fenomena El Nino yang lebih kuat dari perkiraan, meningkatnya serangan terhadap pengiriman biji-bijian di Laut Hitam dalam konflik Rusia-Ukraina, serta lonjakan harga energi akibat perang di Iran.
Dalam skenario terburuk apabila seluruh risiko tersebut terjadi bersamaan, harga minyak mentah Brent diperkirakan mencapai rata-rata USD105 per barel pada 2027.
Sementara itu, harga komoditas pangan berpotensi berada 12 persen di atas proyeksi dasar dan bahkan melampaui level harga pada 2022.
Sejak pecahnya perang di Iran, Bank Dunia telah mengucurkan bantuan darurat sebesar USD8,7 miliar kepada negara-negara yang rentan terdampak krisis.
"Prioritas utama haruslah melindungi masyarakat termiskin dan mendukung negara-negara berpendapatan rendah yang telah berjuang menghadapi beban utang yang berat," kata Kose.
Pasokan Minyak Dunia Diperkirakan Turun
Selain kenaikan harga, Bank Dunia memperkirakan pasokan minyak global menyusut 5,2 persen sepanjang 2026. Penurunan ini menjadi yang terbesar dalam lebih dari 40 tahun, di luar periode pandemi, akibat dampak konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.
Laporan tersebut juga menyebut harga minyak dunia berpotensi meningkat lebih tinggi apabila konsumsi minyak tidak diproyeksikan mengalami penurunan sebesar 2,5 persen pada tahun ini.
Penurunan konsumsi tersebut tercatat sebagai yang terbesar ketiga sepanjang sejarah, setelah kontraksi pada masa pandemi Covid-19 dan krisis minyak pada 1980.
Secara keseluruhan, perkiraan terbaru Bank Dunia menunjukkan harga pangan, energi, dan berbagai komoditas global akan jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi yang diterbitkan lembaga tersebut pada April 2026.
Logo Bank Dunia. (Istimewa)