Ntvnews.id, Vatikan - Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo XIV, kembali menyuarakan seruan perdamaian bagi kawasan Timur Tengah yang tengah dilanda konflik. Ia mendesak agar kekerasan segera dihentikan serta dialog diplomatik kembali dibuka untuk mengakhiri perang yang berlangsung.
Seruan tersebut disampaikan Paus Leo XIV saat memimpin doa Angelus mingguan di Vatikan. Dalam pesannya, ia menyoroti penderitaan warga sipil yang terdampak konflik selama dua pekan terakhir.
"Saudara-saudari terkasih, selama dua minggu rakyat Timur Tengah telah menderita kekerasan perang yang mengerikan. Ribuan orang tak berdosa telah terbunuh, dan banyak lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka,' katanya.
Paus juga menyampaikan empatinya kepada keluarga korban yang kehilangan anggota keluarga akibat serangan yang menyasar berbagai fasilitas sipil.
Baca Juga: Trump: AS Belum Siap Capai Kesepakatan dengan Iran soal Konflik Timur Tengah
"Saya memperbarui kedekatan saya kepada semua orang yang telah kehilangan orang yang dicintai dalam serangan yang telah menghantam sekolah, rumah sakit, dan daerah pemukiman," tabahnya.
Dalam pernyataannya, Paus Leo XIV juga menyoroti situasi di Lebanon yang menurutnya menjadi salah satu titik yang menimbulkan kekhawatiran serius di kawasan tersebut.
Ia kemudian menyampaikan pesan langsung kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Dalam bahasa Italia, Paus mengatakan, "Atas nama umat Kristen di Timur Tengah dan semua perempuan dan laki-laki yang berkehendak baik, saya menyampaikan pesan kepada mereka yang bertanggung jawab atas konflik ini."
Paus Leo XIV. (ANTARA)
Paus Leo XIV dengan tegas menyerukan penghentian kekerasan dan pembukaan jalur diplomasi. Ia menekankan, "Hentikan tembakan! Biarkan jalan dialog dibuka kembali!"
Menurutnya, konflik bersenjata tidak akan pernah menghasilkan stabilitas maupun keadilan yang diharapkan masyarakat. Ia menegaskan bahwa "Kekerasan tidak akan pernah mengarah pada keadilan, stabilitas, dan perdamaian yang dinantikan rakyat."
Baca Juga: Trump Ancam Hancurkan Total Rezim Iran
Konflik di kawasan tersebut meningkat sejak Israel bersama Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu menyebabkan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, tewas.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan terhadap Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk. Selain itu, Teheran juga menutup jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Menurut laporan pemerintah dan media Iran, konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, dengan sebagian besar korban berada di wilayah Iran.
Paus Leo XIV. (ANTARA)