Ntvnews.id, Dubai - Kisah wisatawan asing yang terjebak di kawasan Timur Tengah terus bermunculan seiring memanasnya konflik regional. Salah satunya dialami seorang turis asal Inggris yang mengaku harus mengeluarkan biaya akomodasi hingga ratusan juta rupiah setelah penerbangannya dibatalkan.
Wisatawan tersebut adalah Andrea Pendrey yang bersama pasangannya terjebak di Dubai, Uni Emirat Arab. Mereka awalnya hanya singgah untuk transit setelah menghabiskan masa bulan madu di Maladewa.
Dilansir dari BBC, Sabtu, 14 Maret 2026, Andrea mengungkapkan bahwa situasi tersebut semakin sulit karena ia sedang menjalani pengobatan kanker payudara dan memiliki jadwal kemoterapi yang harus dipenuhi.
Pasangan tersebut terbang dari Maladewa menuju Dubai pada Minggu, 1 Maret. Namun, setibanya di kota tersebut, konflik di kawasan Timur Tengah pecah sehingga sejumlah penerbangan dibatalkan.
Mereka pun tidak memiliki pilihan selain menunggu di bandara sambil mencari solusi perjalanan pulang.
"Emirates hanya memberi tahu kami bahwa kami perlu mencari kamar, dengan biaya sendiri, dan bandara semakin penuh dengan orang," kata Andrea.
Akibat situasi darurat tersebut, mereka terpaksa meninggalkan bandara untuk mencari tempat menginap. Namun hampir semua hotel telah penuh, sehingga pilihan yang tersisa hanya penginapan mewah dengan tarif tinggi.
Baca Juga: Rekam Rudal Iran di Langit Dubai, Turis Terancam Hukuman Penjara
Keadaan itu membuat pasangan tersebut harus menanggung pengeluaran tak terduga selama masa penantian.
"Kami memperkirakan kami akan mengeluarkan tambahan £12.000 (Rp 271 jutaan) pada saat kami check-out," kata Andrea.
Selain harus menghadapi kondisi kesehatannya, Andrea juga mengungkapkan bahwa situasi keuangan mereka sedang sulit karena pasangannya baru saja kehilangan pekerjaan sebelum mereka berangkat berlibur.
"Uang itu membuatku stres. Kami terpaksa menggunakan kartu kredit," jawabnya.
Akibat tertahannya perjalanan pulang, Andrea juga harus menjadwalkan ulang sesi kemoterapi yang seharusnya ia jalani di Inggris.
"Aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Aku harus pulang untuk kemoterapi. Berada di sini tidak membantu," katanya.
Selama hampir satu pekan, pasangan tersebut menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk mencoba memesan ulang penerbangan, namun belum berhasil mendapatkan kursi.
Marina Dubai (Betterhomes)
Akhirnya, perusahaan asuransi Andrea mengklasifikasikan situasi tersebut sebagai keadaan darurat medis. Mereka kemudian dijadwalkan terbang kembali ke Inggris melalui Frankfurt pada Senin.
"Meskipun tempat ini seperti surga, kami menangis dan merasa sangat sedih," katanya.
Kisah serupa juga dialami pasangan pensiunan Debbie dan Ardon Rainbird yang terjebak di Doha setelah liburan dari Sri Lanka.
Pasangan tersebut awalnya dijadwalkan kembali ke Inggris pada Selasa, 3 Maret melalui ibu kota Qatar itu. Namun penerbangan mereka dibatalkan ketika konflik mulai meningkat.
"Pada akhirnya kami tinggal selama sebulan padahal seharusnya hanya dua minggu," kata Debbie yang berusia 63 tahun.
Debbie dan suaminya terjebak bersama rombongan tur mereka dan akhirnya menginap di sebuah hotel sederhana dengan biaya sekitar 160 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per malam.
Baca Juga: Pesawat Israel Terbang Rendah di Beirut, Sebar Selebaran Propaganda ke Warga Lebanon
Fasilitas yang mereka dapatkan mencakup makan malam, tempat tidur, sarapan, serta layanan laundry mandiri. Dalam rombongan tur tersebut terdapat sekitar 20 orang yang menghadapi situasi serupa.
"Sedikit dari kami yang dapat mengetahui apakah kami diasuransikan dan hanya menerima balasan otomatis untuk setiap pertanyaan. Kami semua merindukan orang-orang terkasih dan ingin pulang," kata Debbie.
Selama menunggu kepastian perjalanan, Debbie juga sempat mengalami infeksi saluran pernapasan sehingga harus membayar biaya dokter. Beberapa wisatawan lanjut usia lainnya juga terpaksa membeli obat setelah persediaan mereka habis.
Operator tur mereka, Distant Journeys, kemudian berhasil mengatur penerbangan charter yang dijadwalkan berangkat pada Minggu malam.
"Penerbangan belum dikonfirmasi dan kami tidak tahu waktunya, tetapi kami berharap semuanya berjalan lancar," katanya.
Dubai, 1 Maret (Xinhua) (Antara)