40 Ribu Turis yang Terjebak di Thailand Akibat Konflik Timur Tengah Berhasil Dipulangkan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Mar 2026, 12:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Ilustrasi bandara. Ilustrasi bandara. (One India)

Ntvnews.id, Bangkok - Lebih dari 40.000 wisatawan yang sempat tertahan di Thailand akibat gangguan penerbangan yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah kini telah berhasil kembali ke negara asal mereka.

Pemulangan puluhan ribu turis tersebut dapat dilakukan setelah Civil Aviation Authority of Thailand memberikan izin sementara kepada operator tur asing untuk mengoperasikan penerbangan charter yang digunakan khusus menjemput para wisatawan.

Dikutip dari Bangkok Post, Sabtu, 14 Maret 2026, Direktur Eksekutif kawasan Eropa Tourism Authority of Thailand, Suladda Sarutilavan, menjelaskan bahwa sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, kantor TAT di Eropa menerima banyak permintaan bantuan dari berbagai perusahaan perjalanan.

Menurut Suladda, perusahaan tur meminta koordinasi agar para wisatawan yang tertahan dapat dipulangkan melalui bandara-bandara di Thailand.

Salah satu hambatan yang sempat muncul adalah regulasi yang melarang penerbangan charter menjual tiket satu arah. Aturan tersebut membuat proses pemulangan wisatawan menjadi lebih rumit.

Menanggapi kondisi tersebut, sejak 3 Maret CAAT akhirnya mengeluarkan kebijakan sementara yang memungkinkan pesawat charter datang ke Thailand tanpa membawa penumpang dan kemudian mengangkut wisatawan yang terdampak untuk diterbangkan pulang. Kebijakan darurat tersebut berlaku hingga Sabtu.

Upaya koordinasi ini berawal dari permintaan bantuan yang diajukan operator tur asal Polandia, ITAKA, kepada TAT terkait 18 wisatawan mereka yang sebelumnya melakukan perjalanan ke Australia.

Baca Juga: Trump Ancam Hantam Infrastruktur Minyak Iran Jika Selat Hormuz Tetap Tutup

Rombongan tersebut dijadwalkan kembali ke Warsawa melalui Doha pada 28 Februari. Namun rencana itu gagal terlaksana setelah wilayah udara di kawasan Timur Tengah ditutup akibat konflik.

Sebagai solusi, para wisatawan itu lebih dulu diterbangkan ke Bangkok sebelum akhirnya dipulangkan ke Warsawa menggunakan penerbangan charter.

Kasus serupa juga dialami sekitar 315 wisatawan dari negara-negara Nordik yang sempat terdampar selama lebih dari satu pekan di berbagai destinasi di Asia Tenggara dan kawasan Samudra Hindia.

Untuk membantu pemulangan mereka, TAT kemudian berkoordinasi dengan CAAT guna memberikan izin kepada maskapai Sunclass Airlines yang dimiliki Ving Group untuk mengoperasikan penerbangan charter pada 8 Maret. Para wisatawan tersebut akhirnya tiba di Kopenhagen sehari setelahnya.

Ilustrasi bandara Ilustrasi bandara

Meski ribuan turis telah berhasil dipulangkan, hingga kini jumlah pasti wisatawan yang masih tertahan di Thailand belum dapat dipastikan. Hal ini karena sebagian dari mereka merupakan pelancong individu yang tidak menggunakan layanan agen perjalanan.

Sementara itu, sejumlah pelaku industri perhotelan di Thailand turut memberikan keringanan bagi tamu yang terdampak situasi tersebut. Pemilik Pimalai Resort and Spa, Charintip Tiyaphorn, mengatakan pihaknya menawarkan tarif khusus bagi tamu yang harus memperpanjang masa tinggal mereka.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar wisatawan yang sempat tertahan kini sudah berhasil kembali ke negara asal masing-masing.

Pengelola hotel juga mulai menyesuaikan kebijakan untuk periode libur Paskah pada April mendatang dengan menyediakan aturan pembatalan yang lebih fleksibel, terutama bagi wisatawan asal Eropa yang terdampak situasi konflik di Timur Tengah.

x|close