Mojtaba Khamenei Perintahkan Blokade Selat Hormuz, Desak Negara Teluk Tutup Pangkalan Militer AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Mar 2026, 11:20
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, memerintahkan aparat militernya untuk mempertahankan penutupan Selat Hormuz dan memastikan jalur pelayaran strategis tersebut benar-benar diblokade dari kapal-kapal yang melintas.

Dilaporkan oleh AFP pada Kamis (12/3/2026), pernyataan itu disampaikan Mojtaba setelah beberapa hari tidak muncul di hadapan publik. Sebelumnya ia disebut mengalami luka akibat serangan udara dalam konflik yang sedang berlangsung.

Dalam pernyataannya, Mojtaba menegaskan bahwa Iran harus menggunakan sepenuhnya tekanan strategis yang dimiliki di jalur perairan tersebut.

"Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan," kata Khamenei tentang jalur air yang biasanya dilalui seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut.

Baca Juga: Iran Larang Kapal AS dan Sekutunya Melintas Selat Hormuz

Selain menegaskan kebijakan blokade, Mojtaba juga menyerukan langkah politik dan militer yang lebih luas terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia meminta negara-negara di kawasan Teluk untuk menutup pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah mereka.

Mojtaba, yang naik sebagai pemimpin setelah ayahnya sekaligus pendahulunya, Ali Khamenei, tewas dalam gelombang awal serangan Amerika Serikat dan Israel pada awal perang, juga menyampaikan sumpah untuk melakukan pembalasan.

"Saya bersumpah untuk membalas darah anak-anak dan cucu-cucu kita," tegas dia.

Pernyataan tersebut segera direspons oleh militer Iran. Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran, Alireza Tangsiri, menyatakan pihaknya akan menjalankan perintah pemimpin tertinggi dengan memberikan serangan keras terhadap musuh sambil tetap menjaga strategi penutupan Selat Hormuz.

"Sebagai tanggapan atas perintah panglima tertinggi, kami akan memberikan pukulan terkeras kepada musuh agresor sambil mempertahankan strategi penutupan Selat Hormuz," ucap dia.

Baca Juga: Netanyahu Tiba-Tiba Muncul Usai Iran Bombardir Tel Aviv, Ancam Bunuh Mojtaba Khamenei

Di tengah konflik yang meningkat, aktivitas pelayaran di sekitar Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti selama beberapa hari. Jalur perairan yang berada di kawasan Teluk tersebut menjadi sangat berbahaya setelah sejumlah kapal yang mencoba melintas dilaporkan menjadi sasaran serangan di perairan lepas pantai Uni Emirat Arab dan Irak.

Situasi ini memicu tekanan politik yang semakin besar terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, karena dampak ekonomi global dari krisis tersebut terus meningkat. Trump juga disebut beberapa kali memberikan pernyataan yang membingungkan mengenai kapan kampanye udara Amerika Serikat akan dihentikan.

Lonjakan harga minyak dunia turut memperparah ketegangan. Harga minyak bahkan menembus lebih dari 100 dolar AS per barel. Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menegaskan bahwa prioritas utamanya tetap terkait ancaman nuklir Iran.

"yang jauh lebih menarik dan penting bagi saya, sebagai Presiden, adalah menghentikan Kekaisaran jahat, Iran, agar tidak memiliki Senjata Nuklir, dan menghancurkan Timur Tengah dan, memang, Dunia."

x|close