Ntvnews.id, Taheran - Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, memerintahkan pasukan negaranya untuk terus mempertahankan penutupan Selat Hormuz. Ia meminta aparat militer Iran bersikap tegas dalam memblokade jalur pelayaran strategis tersebut dari kapal-kapal yang melintas.
Dilansir dari AFP, Jumat, 13 Februari 2026, pernyataan itu disampaikan Mojtaba setelah beberapa hari tidak muncul di hadapan publik. Sebelumnya ia dikabarkan mengalami luka akibat serangan udara di tengah konflik yang berlangsung.
Dalam pernyataan tersebut, Mojtaba menegaskan pentingnya memanfaatkan jalur strategis itu sebagai alat tekanan terhadap lawan.
"Pengungkit untuk memblokir Selat Hormuz harus benar-benar digunakan," kata Khamenei tentang jalur air yang biasanya dilalui seperempat perdagangan minyak dunia melalui laut.
Selain menegaskan kebijakan penutupan Selat Hormuz, Mojtaba juga menyerukan aksi balasan terhadap pihak lawan. Ia merupakan putra sekaligus penerus dari pemimpin sebelumnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas pada gelombang awal serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di awal perang.
Baca Juga: Dubes Iran di Rusia Tegaskan Iran Hanya Ingin Kemenangan atas AS dan Israel
Dalam pernyataannya, Mojtaba juga mengajak negara-negara Teluk untuk menutup pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di wilayah mereka.
"Saya bersumpah untuk membalas darah anak-anak dan cucu-cucu kita," tegas dia.
Pernyataan tersebut langsung direspons oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, menegaskan pihaknya siap melaksanakan perintah tersebut sekaligus memberikan serangan balasan kepada Amerika Serikat dan Israel.
"Sebagai tanggapan atas perintah panglima tertinggi, kami akan memberikan pukulan terkeras kepada musuh agresor sambil mempertahankan strategi penutupan Selat Hormuz," ucap dia.
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Istimewa)
Di tengah meningkatnya serangan dari Iran, aktivitas pengiriman kapal di sekitar Selat Hormuz dilaporkan hampir berhenti selama beberapa hari terakhir. Beberapa kapal yang mencoba melintas bahkan menjadi target serangan di wilayah Teluk, termasuk di perairan dekat Uni Emirat Arab dan Irak.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan politik domestik yang meningkat seiring dampak ekonomi global dari konflik tersebut. Lonjakan harga energi turut memperburuk situasi, dengan harga minyak dunia sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel.
Baca Juga: Skenario FIFA Usai Timnas Iran Mundur dari Piala Dunia 2026
Trump juga sempat menyampaikan pernyataan melalui media sosial mengenai tujuan utama kebijakan Washington terhadap Iran.
"yang jauh lebih menarik dan penting bagi saya, sebagai Presiden, adalah menghentikan Kekaisaran jahat, Iran, agar tidak memiliki Senjata Nuklir, dan menghancurkan Timur Tengah dan, memang, Dunia." tandasnya.
Peta Selat Hormuz (Wikipedia Commons) (Antara)