Perang Iran vs AS-Israel Memanas, IEA Banjiri 400 Juta Barel Minyak ke Pasar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Mar 2026, 12:45
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Kepulan asap setelah serangan udara Israel di Teheran, Iran Sabtu (7/3/2026). ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. Kepulan asap setelah serangan udara Israel di Teheran, Iran Sabtu (7/3/2026). ANTARA/Xinhua/Shadati/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Paris — Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional, Fatih Birol pada Rabu, 11 Maret 2026 menyampaikan bahwa lembaganya merekomendasikan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat negara-negara anggota. Langkah ini disebut sebagai pelepasan cadangan terbesar sepanjang sejarah IEA.

"Ke-32 negara anggota secara bulat menyetujui langkah penyediaan 400 juta barel minyak ke pasar dari cadangan darurat mereka," ujar Birol dalam konferensi pers.

Ia menjelaskan bahwa pelepasan cadangan minyak tersebut akan dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kondisi dan kebijakan masing-masing negara anggota.

Menurut Birol, sekretariat IEA nantinya akan memberikan penjelasan lebih rinci terkait mekanisme implementasi langkah kolektif tersebut. Selain itu, lembaga tersebut juga akan terus memantau secara ketat perkembangan pasar minyak dan gas global.

Baca Juga: Bahlil Minta Masyarakat Tidak Panic Buying BBM di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ilustrasi - Sebuah rudal diluncurkan dari sebuah kapal perang selama latihan militer Iran. ANTARA/Anadolu/am. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Sebuah rudal diluncurkan dari sebuah kapal perang selama latihan militer Iran. ANTARA/Anadolu/am. (Antara)

Saat ini, negara-negara anggota IEA memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan darurat minyak. Selain itu, terdapat tambahan sekitar 600 juta barel stok industri yang disimpan berdasarkan kewajiban pemerintah.

IEA juga mengungkapkan bahwa konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah berdampak pada terganggunya arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz. Akibatnya, volume ekspor minyak mentah dan produk olahan dilaporkan turun hingga kurang dari 10 persen dibandingkan tingkat sebelum konflik.

Langkah pelepasan cadangan minyak darurat tersebut diambil menjelang pertemuan daring para pemimpin Group of Seven (G7) yang dijadwalkan berlangsung pada hari yang sama. Pertemuan itu akan membahas dampak ekonomi dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Sebelumnya, para menteri energi G7 di bawah kepemimpinan Prancis telah menggelar pertemuan melalui konferensi video pada Selasa, 10 Maret 2026 untuk membahas meningkatnya volatilitas harga minyak global.

Baca Juga: AS Bersiap Serangan Baru, Warga Sipil Diminta Jauhi Pelabuhan di Selat Hormuz

Pada Senin, 9 Maret 2026, harga minyak mentah Brent Crude, yang menjadi acuan pasar internasional, sempat melonjak hingga sekitar 119 dolar AS per barel. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak pertengahan 2022.

Dalam pernyataan yang dirilis sebelumnya pada Rabu, para menteri energi G7 menyatakan dukungan terhadap penerapan langkah-langkah proaktif guna mengatasi situasi tersebut, termasuk penggunaan cadangan strategis minyak.

(Sumber: Antara)

x|close