Ntvnews.id, Tokyo - Para pemimpin negara-negara anggota Group of Seven (G7) dijadwalkan menggelar pertemuan daring pada Rabu, 11 Maret 2026 untuk membahas perkembangan situasi di Timur Tengah setelah serangan militer United States dan Israel terhadap Iran.
Dalam agenda tersebut, para pemimpin juga akan mempertimbangkan kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi guna menstabilkan pasar energi global.
Dilansir dari Reuters, Kamis, 12 Maret 2926, pertemuan ini berlangsung sehari setelah International Energy Agency (IEA) dilaporkan mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah dalam rapat darurat. Jika disepakati, langkah itu akan menjadi respons kolektif pertama yang dipimpin IEA sejak 2022, ketika Russia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraine.
Dari Jepang, yang mengandalkan pasokan Timur Tengah untuk lebih dari 90 persen impor minyak mentahnya, Perdana Menteri Sanae Takaichi diperkirakan akan mendorong pendekatan diplomatik guna meredakan ketegangan di kawasan tersebut, menurut sumber pemerintah.
Baca Juga: Iran Mundur dari Piala Dunia 2026, Apa Alasannya?
Menjelang pertemuan itu, Takaichi juga menyampaikan kepada wartawan bahwa Jepang akan mulai mengurangi cadangan minyaknya paling cepat pada Senin mendatang tanpa menunggu keputusan kolektif dari IEA.
Jepang disebut siap melepas cadangan minyak setara konsumsi selama 15 hari yang disimpan sektor swasta serta cadangan milik pemerintah yang setara dengan kebutuhan satu bulan.
Data hingga akhir Desember menunjukkan Jepang memiliki cadangan minyak yang cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik selama 254 hari. Jumlah itu terdiri dari cadangan pemerintah untuk 146 hari, cadangan sektor swasta selama 101 hari, serta sisanya yang disimpan bersama negara-negara produsen minyak.
Ketegangan energi global semakin meningkat setelah muncul laporan media yang menyebut Iran mulai menempatkan ranjau di Strait of Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute energi paling vital di dunia karena dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global.
G7 Bela Israel dan Sebut Iran Biang Kerok! (Ist)
Para pemimpin G7 diperkirakan akan menegaskan pentingnya kerja sama erat guna menjaga stabilitas pasokan energi. Hal ini menjadi krusial setelah Selat Hormuz secara efektif tertutup sejak dimulainya serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Sebelumnya, pada Selasa, negara-negara G7 — yakni Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat — bersama European Union telah menggelar pertemuan daring tingkat menteri energi.
Dalam pertemuan tersebut, mereka menegaskan kesiapan untuk mengambil langkah yang diperlukan, termasuk pelepasan cadangan minyak, demi menjaga stabilitas pasokan energi dunia.
Media The Wall Street Journal yang mengutip pejabat terkait melaporkan bahwa IEA sebelumnya telah mengusulkan “pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarahnya” guna meredam lonjakan harga.
Baca Juga: Prabowo Akan Tempatkan Utusan Khusus di Tiap BUMN untuk Perkuat Pengawasan
Menurut IEA, pelepasan cadangan minyak terkoordinasi terbesar sebelumnya terjadi pada 2022 ketika negara-negara anggota sepakat melepas sekitar 182 juta barel cadangan darurat dalam dua tahap.
Saat ini, negara-negara anggota IEA, termasuk anggota G7, memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik. Sementara itu, Amerika Serikat dan Jepang menyimpan cadangan gabungan sekitar 700 juta barel.
Aturan IEA mewajibkan setiap negara anggota memiliki cadangan minyak setara minimal 90 hari impor bersih, serta siap merespons secara kolektif apabila terjadi gangguan pasokan serius yang berdampak pada pasar minyak global.
Bendera Kelompok G7, terdiri dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia dan Jepang. (ANTARA)