Ntvnews.id, Washington - Intelijen Amerika Serikat mendeteksi kemungkinan Iran berupaya memasang ranjau laut di Selat Hormuz dengan menggunakan kapal-kapal kecil yang masing-masing dapat membawa dua hingga tiga ranjau, menurut laporan media setempat pada Selasa 10 Maret 2026.
Laporan tersebut menyebutkan persediaan ranjau laut yang dimiliki Iran diperkirakan berkisar antara 2.000 hingga 6.000 unit, meskipun jumlah pastinya belum dapat dipastikan.
Ranjau tersebut disebut diproduksi di dalam negeri maupun diperoleh dari Rusia dan China.
Baca Juga: Pemerintah Koordinasi Cari 3 WNI Awak Kapal yang Hilang di Selat Hormuz
Di tengah kekhawatiran tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pasukannya telah menghancurkan 10 kapal Iran yang diduga digunakan untuk menebar ranjau di Selat Hormuz.
Peta Selat Hormuz (Wikipedia Commons) (Antara)
“Kami telah menghantam dan sepenuhnya menghancurkan 10 kapal dan/atau perahu penebar ranjau yang tidak aktif, dan masih akan ada lagi,” tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaksanakan operasi tersebut atas arahan presiden.
Ia menegaskan pihaknya tidak akan membiarkan Selat Hormuz dijadikan alat tekanan terhadap jalur energi global.
Menurut pejabat AS, Iran diduga menggunakan kapal kecil untuk membawa ranjau laut tersebut.
Namun Trump juga menyebut Washington belum memiliki bukti bahwa ranjau benar-benar telah dipasang di jalur pelayaran utama di kawasan itu.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling strategis di dunia, dengan lebih dari 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi melintasinya setiap hari atau sekitar 20 persen dari konsumsi energi global.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar serta korban jiwa.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Baca Juga: AS Sebut Telah Hancurkan 11 Kapal Iran di Teluk Oman
Dalam operasi militer pada hari pertama serangan tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas.
Pemerintah Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam kematian Khamenei dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga menyerukan deeskalasi dan penghentian permusuhan.
Eskalasi konflik di Timur Tengah sejak akhir Februari itu dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, sementara sedikitnya delapan personel militer Amerika Serikat juga dilaporkan tewas sejak dimulainya operasi militer tersebut.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Sebuah rudal diluncurkan dari sebuah kapal perang selama latihan militer Iran. (ANTARA/Anadolu/am) (Antara)