Ntvnews.id
Mukhtarudin menjelaskan proses pencarian masih berlangsung dengan melibatkan otoritas setempat serta perwakilan Indonesia di luar negeri.
“Ada tiga WNI yang masih proses pencarian, ya, di kapal yang pekerjanya ada orang Indonesia; dan mitigasi proses bersama dengan otoritas yang di sana berjalan terus bersama KBRI, KJRI,” kata Mukhtarudin usai acara Pelepasan 344 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) di Universitas Binawan, Jakarta, Selasa 10 Maret 2026.
Terkait pengawasan terhadap para pekerja migran Indonesia (PMI) di kawasan Timur Tengah, Mukhtarudin menyebut pemerintah bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif mengingat situasi konflik di wilayah tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.
Baca Juga: Kemlu Desak Investigasi Menyeluruh Ledakan Kapal yang Bawa WNI di Selat Hormuz
Meski demikian, ia menilai sebagian besar negara di Timur Tengah masih relatif aman untuk penempatan tenaga kerja Indonesia.
Mukhtarudin juga menegaskan bahwa KBRI dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) bersama Kementerian P2MI terus memantau perkembangan situasi melalui pusat krisis serta saluran telepon siaga atau hotline.
Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen memberikan perlindungan maksimal bagi pekerja migran Indonesia, mulai dari tahap sebelum keberangkatan, selama bekerja di luar negeri, hingga kembali ke Tanah Air.
Sebelumnya pada Jumat, 6 Maret 2026, tiga WNI yang bekerja di kapal tugboat Musaffah 2 berbendera Uni Emirat Arab dilaporkan hilang di Selat Hormuz.
Baca Juga: Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Negara Eropa dan Arab, Asal Usir Diplomat AS dan Israel
Sementara itu, Presiden Direktur Binawan Group Said Saleh Alwaini mengatakan bahwa selain upaya perlindungan dari pemerintah, perusahaan penempatan juga memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan PMI selama masa kerja di negara tujuan.
Menurut Said, perlindungan paling penting bagi PMI dimulai sejak tahap persiapan sebelum keberangkatan, termasuk melalui pelatihan untuk membangun kesiapan mental serta memperkuat komunitas pekerja di negara penempatan.
“Karena mereka kan posisinya di sana. Apa yang bisa dilakukan kami di sini terbatas, tetapi komunitas di sana, antara mereka sendiri, itu support system yang paling kuat,” ujarnya.
Binawan Group sendiri melepas sebanyak 344 calon pekerja migran Indonesia untuk bekerja di berbagai negara, antara lain Austria, Jerman, Belanda, Arab Saudi, Oman, Australia, Brunei Darussalam dan Jepang.
(Sumber: Antara)
Menteri P2MI Mukhtarudin (tengah) dan Presiden Direktur Binawan Group Said Saleh Alwaini (kanan) usai acara Pelepasan 344 Calon Pekerja Migran Indonesia di Jakarta, Selasa 10 Maret 2026. (ANTARA/Cindy Frishanti) (Antara)