Menkes: Indonesia Punya Waktu hingga 2035, Sehat adalah Syarat Mutlak Jadi Negara Maju

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Jul 2026, 15:30
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Kesehatan (Budi Gunadi Sadikin) Menteri Kesehatan (Budi Gunadi Sadikin) (NTVNews)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan pesan sekaligus peringatan keras mengenai masa depan Indonesia menuju target Indonesia Emas 2045. Dalam acara Leimena Conference 2026, Menkes menekankan bahwa kesehatan bukan sekadar isu medis, melainkan fondasi ekonomi utama untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Budi mengingatkan bahwa Indonesia hanya memiliki jendela waktu yang sangat singkat kurang lebih hingga tahun 2035 atau 2040 untuk melompat menjadi negara maju. 

Budi memaparkan data historis negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, dan Taiwan. Negara-negara tersebut berhasil menembus angka Gross National Income (GNI) per kapita sebesar USD 14.000 tepat saat atau segera setelah puncak bonus demografi mereka.

"Jepang mencapai puncak bonus demografi tahun '65 dan menjadi negara maju tahun '68. Singapura butuh lima tahun, Korea Selatan lima tahun," kata Budi Gunadi Sadikin, 27 Juli 2026.

Sebaliknya, ia mencontohkan Thailand yang telah melewati puncak bonus demografi sejak 2009 namun hingga kini masih tertahan di angka USD 8.000-9.000.

"Jika kita tidak mencapai GNI per kapita USD 14.000 dalam waktu dekat, kita berdosa kepada anak cucu kita. Mereka akan terjebak selamanya di negara menengah seperti beberapa negara di Amerika Latin dan Afrika," tegasnya.

Menkes menyuarakan keprihatinannya terhadap energi bangsa yang habis untuk saling mencela. Ia meminta masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang singkat ini.

"Don't waste your time. Jangan habiskan waktu untuk menghujat dan mencari kesalahan orang lain sehingga kita kehilangan energi untuk mengejar target 2035. Peluang ini tidak akan datang dua kali," pesannya.

Dalam strategi kesehatan, Menkes menekankan pergeseran paradigma melalui Integrasi Layanan Primer (ILP). Ia menegaskan bahwa strategi terbaik bukan mengobati orang sakit, melainkan menjaga masyarakat tetap sehat agar tetap produktif.

"Strategi nomor satu adalah layanan primer. Orang yang berpenghasilan 15 juta per bulan pasti lebih sehat dan pintar. Kita harus memastikan 120 juta usia produktif kita sehat supaya bisa berkontribusi pada GDP," jelas Budi.

Puskesmas kini diarahkan untuk bertransformasi dari disease-based (berbasis penyakit) menjadi people-based (berbasis siklus hidup). Menkes mengkritik sistem lama yang hanya fokus pada balita, padahal jumlah lansia saat ini sudah mencapai 33 juta jiwa, melampaui jumlah balita yang hanya 22 juta.

"Puskesmas harus mengurus semua siklus hidup. Jangan tiap minggu datang ditanya penyakit berbeda. Harus patient-centric," tambahnya.

Menkes juga membeberkan sejumlah langkah masif yang telah dilakukan Kementerian Kesehatan dalam dua tahun terakhir:

1. Distribusi Alat Medis

Pengadaan 300.000 alat antropometri modern ke Posyandu dan 10.000 alat USG ke Puskesmas di seluruh Indonesia.

2. Perluasan Imunisasi:

Menambah jumlah program imunisasi nasional dari 11 menjadi 14, termasuk vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks, PCV untuk pneumonia, dan Rotavirus untuk diare.

3. Peningkatan Anggaran

Menaikkan anggaran Puskesmas dari Rp6 triliun menjadi Rp8 triliun, serta memberikan subsidi bagi dokter spesialis di daerah terpencil hingga Rp30 juta per bulan.

Terakhir, Budi mengajak Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta para peneliti untuk melakukan riset yang bermanfaat langsung bagi masyarakat, bukan sekadar mengejar gelar atau publikasi jurnal demi ego pribadi.

"Ilmu itu bukan untuk gelar. Kalau ilmuwan bisa membuat ilmunya bermanfaat bagi masyarakat, itu makamnya tinggi, dunia akhirat dapat. Saya butuh best practices dari Puskesmas untuk direplikasi ke 10.000 Puskesmas lainnya," pungkas Menkes.

Dengan target menaikkan angka harapan hidup dari 72 ke 76 tahun, Menkes optimis bahwa melalui kolaborasi dan fokus pada kesehatan preventif, Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara maju seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat pada 2045 mendatang.

x|close