Kemenkes: 87 Persen Puskesmas Kini Berbasis Siklus Hidup

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Jul 2026, 13:37
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi (NTVNews)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) terus memperkokoh fondasi sistem kesehatan nasional melalui penguatan transformasi pelayanan kesehatan primer. Langkah strategis ini ditegaskan dalam ajang Leimena Conference 2026: Indonesia Primary Health Care Scientific Meeting yang digelar di Gedung Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, pada Senin 27 Juli 2026.

Konferensi ilmiah ini menjadi momentum krusial bagi para pemangku kepentingan untuk berbagi inovasi, praktik baik, serta hasil penelitian terkini guna memastikan layanan kesehatan dasar di Indonesia semakin tangguh dan merata.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa transformasi ini merupakan pilar pertama dari enam pilar reformasi sistem kesehatan yang diinisiasi pascapandemi COVID-19. Perubahan paling fundamental terletak pada pendekatan pelayanan yang kini tidak lagi berbasis program penyakit tertentu, melainkan berfokus pada siklus hidup manusia.

"Kita bergeser dari pendekatan yang terkotak-kotak berdasarkan program menjadi pendekatan komprehensif mulai dari masa kehamilan, bayi, remaja, dewasa, hingga lansia. Model ini telah melalui uji coba di sembilan lokasi pada periode 2022–2023 dan secara resmi telah ditetapkan sebagai standar nasional melalui Keputusan Menteri Kesehatan pada tahun 2024," ujar Maria, 27 Juli 2026.

Hingga Juli 2026, implementasi transformasi ini menunjukkan angka yang signifikan. Sebanyak 9.000 Puskesmas, atau sekitar 87 persen dari total Puskesmas di seluruh pelosok Indonesia, telah menerapkan model pelayanan kesehatan primer yang baru ini.

Transformasi tidak berhenti di tingkat Puskesmas. Kemenkes juga melakukan revitalisasi besar-besaran pada peran Posyandu sebagai garda terdepan di tingkat masyarakat. Sejak tahun 2023, pemerintah telah melakukan pendataan masif terhadap kader kesehatan.

Saat ini, Kemenkes memiliki basis data yang kuat mencakup 1,5 juta kader Posyandu lengkap dengan profil kompetensi mereka. Data terbaru mencatatkan sebanyak 303.209 Posyandu aktif telah menerapkan pelayanan berbasis siklus hidup. Posyandu dikategorikan aktif jika rutin menyelenggarakan layanan setiap bulan dan didukung oleh kader yang kompeten.

Untuk menjamin mutu layanan, Kemenkes telah menetapkan standar 25 keterampilan dasar bagi kader. 

"Kami serius meningkatkan kualitas SDM di lapangan. Hingga saat ini, sekitar 485 ribu kader telah mengikuti penilaian kompetensi. Harapannya, setiap kader memiliki kemampuan yang standar dalam mengedukasi dan memantau kesehatan warga," tambah Maria.

Dalam hal ini, Kemenkes juga mengumumkan peluncuran Pedoman Pelayanan Kesehatan di Tingkat Desa dan Kelurahan yang mulai diimplementasikan tahun ini. Pedoman ini bertujuan untuk menciptakan layanan yang lebih mikro dan presisi.

"Tujuannya adalah agar pelayanan menjadi lebih personal dan tepat sasaran. Petugas kesehatan harus tahu siapa yang paling membutuhkan intervensi di wilayahnya, sehingga tidak ada satu pun warga yang tertinggal," tegas Maria.

Mengusung tema "Integrating Research into Primary Health Care", Leimena Conference 2026 dihadiri oleh sekitar 450 peserta secara luring, mulai dari akademisi, tenaga kesehatan, organisasi profesi, hingga mitra pembangunan.

Penyelenggaraan forum ini juga mendapat apresiasi internasional dengan dukungan dari Pemerintah Australia melalui DFAT serta Primary Health Care Consortium yang didukung oleh Bill & Melinda Gates Foundation (BMGF). Keterlibatan sekitar 200 relawan dalam proses seleksi abstrak menunjukkan tingginya antusiasme komunitas ilmiah dalam mendukung transformasi kesehatan di Indonesia.

Melalui forum ini, Kemenkes berharap seluruh inovasi dan hasil riset yang dipaparkan dapat didokumentasikan dengan baik untuk kemudian direplikasi di berbagai daerah. Penguatan layanan primer diyakini menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui masyarakat yang sehat dan produktif.

x|close