Kemenkes Ingatkan Bahaya Grooming Usai Kasus Penyekapan Perempuan di Bandung

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Jun 2026, 14:40
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi : Grooming terhadap perempuan dan anak. Ilustrasi : Grooming terhadap perempuan dan anak. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap praktik grooming yang dapat menjerat siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Imbauan tersebut disampaikan menyusul mencuatnya kasus penyekapan seorang perempuan selama tiga tahun di Bandung.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa grooming merupakan bentuk kejahatan yang berlangsung secara bertahap dan tersembunyi. Karena itu, korban tidak hanya membutuhkan perlindungan hukum, tetapi juga dukungan psikologis dan layanan medis agar dapat pulih.

"Grooming bukan sekadar rayuan manis atau perhatian berlebihan. Ia adalah strategi yang sistematis, pelaku mendekati korban dengan sikap penuh perhatian, hadiah, atau janji-janji yang membuat korban merasa istimewa."

Menurut Imran, setelah berhasil membangun kedekatan, pelaku perlahan mulai mengendalikan korban. Korban diarahkan untuk merahasiakan hubungan tersebut, dijauhkan dari keluarga maupun teman, hingga kehilangan kemandirian. Pelaku juga menanamkan rasa bersalah ketika korban mencoba menolak sehingga ketergantungan terhadap pelaku semakin kuat.

Baca Juga: Kemendukbangga Ingatkan Pentingnya Rumah Aman Lindungi Anak dari Child Grooming

Ia menilai pola serupa terlihat pada sejumlah kasus yang pernah menjadi perhatian publik. Korban bukan hanya mengalami kekerasan fisik, tetapi juga kehilangan kebebasan dan harta benda akibat manipulasi yang dilakukan pelaku.

"Selama tiga tahun ia hidup dalam penyekapan, meski disiksa, karena ikatan manipulatif yang membuatnya sulit keluar. Trauma, ancaman, dan stigma sosial, semakin memperkuat jerat yang menahan korban. Ia tidak berani melapor, karena merasa tidak ada jalan keluar."

Imran mengatakan, anggapan bahwa grooming hanya dialami anak-anak tidak sepenuhnya benar. Pada anak, praktik tersebut kerap berujung pada eksploitasi seksual. Sementara pada orang dewasa, grooming dapat berkembang menjadi pengendalian emosional, finansial, hingga penyekapan. Meski sasaran usianya berbeda, pola yang digunakan pelaku tetap sama, yakni membangun kepercayaan sebelum mengambil alih kendali atas korban.

Ia juga menjelaskan alasan mengapa korban sering kali kesulitan melawan atau melapor.

Baca Juga: Wihaji Ingatkan Masyarakat Waspadai Praktik Child Grooming

"Mengapa korban sulit melawan? Trauma psikologis membuat mereka kehilangan keberanian. Ketergantungan emosional menjadikan pelaku seolah satu-satunya sumber dukungan."

Selain trauma, korban juga kerap dihadapkan pada ancaman, intimidasi, serta stigma sosial yang membuat mereka takut untuk mencari bantuan. Kombinasi berbagai faktor tersebut menyebabkan korban semakin sulit keluar dari lingkaran manipulasi.

Lebih lanjut, Imran memaparkan bahwa pelaku grooming biasanya memperlihatkan perilaku yang tampak baik di permukaan. Mereka memberikan perhatian, pujian, hadiah, atau bersikap seolah-olah melindungi korban agar tercipta rasa percaya.

"Pelaku kemudian menciptakan rahasia bersama, meminta korban menyimpan hal-hal tertentu dari keluarga atau teman sehingga korban merasa dekat namun sekaligus terisolasi."

Baca Juga: Kemenkes Siapkan Kebijakan Deteksi Dini Penyakit Hati di Puskesmas Lewat Pelatihan Dokter Umum

Setelah hubungan tersebut terbentuk, pelaku mulai membatasi interaksi sosial korban, mengatur aktivitas sehari-hari, hingga membangun ketergantungan emosional. Perlahan-lahan, tindakan yang sebenarnya melanggar batas dinormalisasi dan dianggap sebagai sesuatu yang wajar oleh korban.

"Ketika korban mulai ragu, pelaku menggunakan rasa bersalah dan ancaman, memaksa korban percaya bahwa menolak berarti menghancurkan kepercayaan atau akan berakibat buruk," katanya.

Imran menegaskan, upaya mencegah grooming harus dilakukan secara bersama-sama. Keluarga perlu menjadi tempat yang aman agar anak maupun perempuan berani bercerita tanpa takut dihakimi. Di sisi lain, peningkatan literasi digital juga penting untuk membantu masyarakat mengenali berbagai bentuk manipulasi, terutama yang terjadi di ruang digital.

Baca Juga: Infografik: Ini Ciri-ciri dan Tindakan Pelaku Child Grooming, Waspada!

Ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, memiliki empati terhadap korban, dan tidak ragu melaporkan apabila menemukan indikasi grooming maupun bentuk kekerasan lainnya.

"Dengan mengenali tanda-tandanya, membangun komunikasi terbuka, dan berani melapor, kita dapat memutus rantai manipulasi ini," kata Imran.

(Sumber: Antara)

x|close