Iran Ancam Hentikan Ekspor Minyak di Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Mar 2026, 11:17
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)

Ntvnews.id, Teheran - Iran menegaskan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat, Israel, maupun sekutunya mengekspor minyak dari kawasan Timur Tengah selama konflik masih berlangsung.

“Di tengah agresi yang terus berlangsung dari Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran serta infrastruktur sipil kami, angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan setetes pun minyak diekspor dari kawasan ini kepada pihak yang bermusuhan dan mitra mereka hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kata juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Ali Mohammad Naini, seperti dikutip kantor berita Tasnim News Agency, Selasa, 10 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa berbagai upaya pihak lawan untuk menekan maupun mengendalikan harga minyak dan gas diyakini hanya akan bersifat sementara dan tidak akan membawa hasil yang bertahan lama.

Menurut Naini, Teheran saat ini berada dalam posisi mengendalikan perkembangan konflik yang sedang berlangsung dan Iran pula yang akan menentukan kapan konflik tersebut berakhir.

Ia juga membantah pernyataan sejumlah pejabat pemerintah Amerika Serikat yang menilai kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal telah melemah. Sebaliknya, Iran disebut akan meningkatkan kapasitas serangan rudalnya.

Baca Juga: Qatar Tegaskan Saluran Komunikasi dengan Iran Tidak Terputus

Mulai saat ini, kata dia, Iran akan meluncurkan rudal yang lebih kuat dengan hulu ledak berbobot sedikitnya satu ton.

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Jumat, 28 Februari 2026, termasuk di ibu kota Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan merusak sejumlah fasilitas serta menimbulkan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah di Washington dan Tel Aviv pada awalnya menyatakan bahwa operasi yang mereka sebut sebagai langkah “pencegahan” itu diperlukan untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan berikutnya, kedua negara juga menyampaikan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.

Di tengah konflik tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan syahid pada hari pertama operasi militer tersebut.

Pemerintah Republik Islam Iran kemudian menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Baca Juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Bappisus Tegaskan Pangan hingga BBM Tercukupi

Perkembangan konflik itu juga memicu reaksi dari sejumlah negara. Presiden Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia mengutuk operasi militer Amerika Serikat dan Israel serta menyerukan deeskalasi segera dan penghentian permusuhan.

(Sumber: Antara)

TERKINI

Load More
x|close