Ntvnews.id, Taheran - Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah memicu krisis energi global setelah jalur perdagangan strategis di Selat Hormuz terganggu.
DIlansir dari Reuters, Rabu, 11 Maret 2026, Kapal-kapal tanker yang membawa sekitar 20 juta barel minyak per hari dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia karena tidak dapat melintas dengan aman. Situasi tersebut langsung berdampak pada lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara.
Kondisi ini semakin memburuk sekitar sepekan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran. Serangan menggunakan rudal dan pesawat tanpa awak di kawasan itu tidak hanya merusak sejumlah fasilitas minyak dan gas penting, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian terhadap pasokan energi dari salah satu wilayah produsen minyak terbesar dunia.
Harga minyak mentah global tercatat mencapai 117 dolar AS per barel pada Senin, 9 Maret 2026. Para analis memperingatkan bahwa kenaikan tersebut berpotensi terus berlanjut selama jalur distribusi minyak dunia masih mengalami gangguan.
Baca Juga: Pemerintah Koordinasi Cari 3 WNI Awak Kapal yang Hilang di Selat Hormuz
Lonjakan harga energi mulai terasa di berbagai negara. Di negara bagian California, Amerika Serikat, para pengendara menghadapi harga bensin tertinggi sejak tahun 2012. Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Los Angeles dan Orange County, California, USA, di mana harga BBM telah melampaui 5 dolar AS per galon. Akibatnya, banyak warga harus mengantre hingga 30 menit di stasiun pengisian bahan bakar murah seperti Costco untuk menekan pengeluaran.
Di Seoul, Korea Selatan, harga bahan bakar juga melonjak hingga 2.000 won atau sekitar Rp22.900 per liter. Banyak warga rela menempuh perjalanan lebih jauh untuk mencari SPBU dengan harga lebih murah, sehingga antrean kendaraan pun tak terhindarkan.
Sementara itu, dampak paling berat dirasakan di Bangladesh yang menghadapi krisis energi serius. Sejumlah SPBU di negara tersebut terpaksa tutup karena kehabisan pasokan BBM. Pemerintah pun menerapkan kebijakan penjatahan bahan bakar untuk menghemat penggunaan energi.
Selat Hormuz (Republic World)
Selain membatasi distribusi BBM, pemerintah Bangladesh juga mengambil langkah drastis dengan menghentikan sementara kegiatan pendidikan tatap muka. Kebijakan ini diberlakukan untuk mengurangi konsumsi energi secara nasional.
Instansi pemerintah dan perusahaan swasta juga diminta mengurangi penggunaan listrik, termasuk memangkas penggunaan pendingin udara serta penerangan hingga setengah dari kapasitas normal.
Baca Juga: Iran Buka Akses Selat Hormuz untuk Negara Eropa dan Arab, Asal Usir Diplomat AS dan Israel
"Akibat perang Iran-Israel, saat ini terjadi krisis bahan bakar minyak di Bangladesh. Karena itu, universitas-universitas telah dinyatakan tutup agar lalu lintas berkurang," ungkap Samia Islam, seorang warga Dhaka.
Masyarakat Bangladesh pun berharap konflik di Timur Tengah segera mereda agar kondisi pasokan energi kembali stabil dan krisis yang mereka alami dapat segera berakhir.
Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)