Trump Ancam Gempur Iran Lebih Keras, Tuding Telah Permainkan Negosiasi Damai

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Jun 2026, 07:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.) Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajensi/pri.) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dengan melancarkan serangan yang lebih besar dan intensif. Ancaman itu disampaikan di tengah memburuknya hubungan kedua negara serta mandeknya perundingan damai yang selama ini diupayakan untuk meredakan konflik.

Pernyataan Trump muncul setelah AS dan Iran kembali terlibat aksi saling serang. Ketegangan meningkat usai sebuah helikopter militer AS ditembak jatuh di atas kawasan Selat Hormuz, yang dinilai semakin memperlemah gencatan senjata yang telah berlaku sejak awal April lalu.

Sebagai respons atas insiden tersebut, militer AS melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target di wilayah selatan Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang beberapa pangkalan militer AS yang berada di kawasan Teluk, termasuk di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

"Kita akan menyerang mereka dengan sangat keras," tegas Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih pada Rabu, 10 Juni 2026 waktu AS.

Trump menegaskan bahwa operasi militer Washington belum akan berhenti dalam waktu dekat.

"Kita menyerang mereka dengan keras kemarin, dan kita akan menyerang mereka lagi dengan keras hari ini, jika Anda melewatkannya, jika Anda tidak menyalakan televisi Anda," ucapnya.

Presiden AS itu juga menuduh Iran tidak serius dalam proses perundingan dan sengaja menghambat tercapainya kesepakatan.

Baca Juga: Trump Klaim Pejabat Tinggi Iran Telepon Dirinya dan Memohon AS Hentikan Serangan

"Dan kita akan melihat apa yang terjadi dengan kesepakatan itu. Kita hampir mencapai kesepakatan, tetapi mereka terus mengulur waktu, mereka terus mempermainkan kita," kata Presiden AS tersebut.

Meski melontarkan ancaman, Trump menegaskan Washington masih membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik. Namun, menurutnya, kesepakatan yang dicapai harus memiliki hasil nyata dan dapat dijalankan secara efektif.

"Kita menginginkan kesepakatan yang bermakna. Kita menginginkan kesepakatan yang berhasil," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga mengisyaratkan bahwa dirinya memiliki opsi untuk memerintahkan serangan terhadap infrastruktur strategis Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik. Rencana tersebut sebelumnya sempat menjadi ancaman menjelang penerapan gencatan senjata, tetapi tidak pernah direalisasikan.

Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)

"Saya tidak akan mengatakan itu kepada Anda. Tetapi saya bisa melakukan itu," kata Trump, ketika ditanya oleh jurnalis AFP tentang laporan Fox News yang menyebut Presiden AS itu sedang mempertimbangkan rencana tersebut.

Pernyataan terbaru Trump menunjukkan meningkatnya frustrasi Washington terhadap proses negosiasi dengan Teheran. Selama beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali menyampaikan bahwa kedua pihak hampir mencapai kesepakatan damai.

Melalui akun Truth Social miliknya, Trump bahkan memperingatkan bahwa Iran harus menerima konsekuensi atas keterlambatan tercapainya kesepakatan.

Baca Juga: Trump Optimistis Kesepakatan Damai dengan Iran Bisa Tercapai dalam Dua Hari

"Bully di Timur Tengah telah MATI!!! Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayar harganya!!!" tulis Trump dalam pernyataan via Truth Social.

Sikap keras tersebut berbeda dengan pernyataannya beberapa hari sebelumnya. Pada Selasa, 9 Juni 2026, Trump masih menyatakan optimistis bahwa pembicaraan damai berada pada tahap akhir dan berpotensi mencapai penyelesaian dalam waktu dekat.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan prospek perdamaian semakin tidak pasti, seiring meningkatnya aksi militer dan saling tuding antara Washington dan Teheran.

x|close