Ntvnews.id, Taheran - Ribuan warga Iran di Kota Sirik, sebuah wilayah pelabuhan di bagian selatan negara itu, dilaporkan mengalami krisis air minum setelah serangan terbaru Amerika Serikat merusak infrastruktur penyedia air di kawasan tersebut.
Dilansir AFP, Kamis, 11 Juni 2026, Militer Amerika Serikat pada pekan ini melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di selatan Iran, termasuk Kota Jask, Sirik, dan Pulau Qeshm yang berada di kawasan Selat Hormuz.
Washington menyatakan operasi militer tersebut merupakan tindakan "pertahanan diri" sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache milik militer AS yang ditembak Iran di kawasan Teluk.
Menurut otoritas di Iran, serangan udara itu mengakibatkan kerusakan pada dua waduk yang selama ini menjadi sumber pasokan air bagi wilayah Bemani dan Kouhestak di Kota Sirik.
"Sayangnya, serangan serangan ini, sebanyak 20.000 penduduk di wilayah tersebut kehilangan akses air minum yang aman, dan dengan suhu antara 45 hingga 50 derajat Celsius, kondisinya menjadi sangat sulit dan kritis bagi penduduk setempat," kata para pejabat perusahaan air setempat, seperti disiarkan televisi pemerintah Iran.
Baca Juga: Timteng Bergejolak, Kuwait–Yordania Kompak Cegat Rudal yang Berasal dari Iran
Pihak perusahaan air juga menegaskan bahwa kerusakan fasilitas tersebut telah mengganggu distribusi air di kawasan terdampak.
"Kerusakan pada waduk-waduk ini telah menciptakan masalah besar bagi jaringan pasokan air di wilayah tersebut," sebut para pejabat tersebut, sembari menekankan bahwa wilayah tersebut kekurangan air tanah untuk mengganti pasokan waduk yang rusak.
Pejabat senior perusahaan air di Provinsi Hormozgan, Abdolhamid Hamzehpour, mengatakan pemerintah daerah kini berupaya mencari sumber pasokan alternatif untuk memenuhi kebutuhan desa-desa yang terdampak akibat kerusakan waduk tersebut.
Iran mengecam serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan menyebut operasi tersebut dilakukan "dengan dalih palsu". Teheran menilai tindakan Washington telah memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah yang terdampak.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Bahrain, Yordania, dan Kuwait.
Insiden ini menjadi bagian dari eskalasi terbaru konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Selain memicu ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, serangan terhadap fasilitas sipil seperti waduk air juga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak kemanusiaan yang harus ditanggung masyarakat setempat, terutama di tengah cuaca ekstrem dengan suhu yang mencapai 50 derajat Celsius.
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)