Ntvnews.id, Jakarta - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan serangan besar-besaran terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah. Operasi tersebut disebut sebagai respons langsung atas serangan udara AS yang sebelumnya menghantam sejumlah wilayah di Iran bagian selatan.
Dalam pernyataan yang disampaikan Rabu (10/6/2026) pagi melalui media pemerintah Iran, IRGC menyebut telah menyerang 21 target militer AS yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk pangkalan udara dan fasilitas angkatan laut.
Salah satu target utama dalam operasi itu adalah markas Armada Kelima AS yang berada di Bahrain. Serangan dilakukan menggunakan drone atau pesawat tanpa awak sebagai bagian dari langkah balasan Iran terhadap operasi militer Washington.
Selain mengumumkan serangan tersebut, Garda Revolusi menegaskan bahwa tindakan yang lebih keras masih dapat dilakukan apabila Amerika Serikat terus melanjutkan operasi militernya terhadap Iran.
IRGC juga mengklaim berhasil menembak jatuh drone pengintai MQ-9 Reaper milik AS di wilayah Provinsi Bushehr, Iran selatan.
Baca Juga: Guyon Prabowo di Munas HIPMI: Aku Sudah Tahu Kelakuanmu, Gelagatnya Pun Sudah Saya Tahu
Pada saat yang hampir bersamaan, Iran melancarkan serangan drone ke Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Namun, militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menghadapi ancaman tersebut dan melumpuhkan target udara yang masuk ke wilayahnya.
Serangan Iran terjadi setelah militer AS memperluas operasi udara ke sejumlah titik strategis di Iran selatan. Dalam operasi tersebut, Washington menyerang 20 target yang berada di wilayah Jask, Sirik, hingga Pulau Qeshm. Menara telekomunikasi termasuk di antara sasaran yang dihantam oleh serangan Amerika.
Konflik yang terus meluas juga menjangkau Yordania. Media Iran melaporkan bahwa IRGC menggunakan rudal jarak jauh untuk menyerang pangkalan Al-Azraq yang digunakan militer AS.
Menurut Garda Revolusi, empat area penting di pangkalan tersebut menjadi sasaran serangan. Target yang disebutkan mencakup hanggar jet tempur F-35 serta pusat komando dan kendali.
Meski demikian, militer Yordania menyatakan sistem pertahanannya berhasil melakukan pencegatan. Pihak militer setempat melaporkan puing-puing rudal jatuh di sejumlah area setelah intersepsi dilakukan, namun tidak ada korban jiwa maupun kerusakan yang dilaporkan.
Baca Juga: BBM Naik, Pramono Optimistis Pengguna Transportasi Umum di Jakarta Meningkat
Di tengah meningkatnya ketegangan, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menyelesaikan serangan terhadap Iran yang dilakukan sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS.
Menurut CENTCOM, operasi itu menargetkan sistem pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, serta fasilitas radar pengawasan yang berada di sekitar Selat Hormuz. Serangan dilaksanakan menggunakan amunisi presisi yang ditembakkan dari jet tempur Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS.
Operasi tersebut merupakan "respons proporsional" terhadap serangan baru-baru ini terhadap pasukan AS dan kapal komersial internasional yang melintasi perairan regional, sebut pernyataan itu.
Sementara itu, seorang pejabat AS menyatakan bahwa hampir seluruh rudal dan drone yang diluncurkan Iran berhasil dicegat berdasarkan penilaian awal yang dilakukan militer Amerika.
Pejabat tersebut juga mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban di pihak personel AS maupun kerusakan signifikan terhadap fasilitas militer Amerika yang berada di kawasan tersebut.
Ilustrasi rudal Iran untuk serangan balasan terhadap sejumlah target di Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)