Iran dan Israel Umumkan Jeda Serangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Jun 2026, 06:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Rudal Iran. ANTARA/Anadolu/py. Ilustrasi - Rudal Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Israel dan Iran menyatakan penghentian sementara aksi militer setelah kedua negara terlibat saling serang untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata diberlakukan dua bulan lalu. Kendati demikian, kedua pihak menegaskan siap memberikan respons jika kembali menjadi sasaran serangan.

Dilansir dari DW, Rabu, 10 Juni 2026, perkembangan tersebut memunculkan harapan baru terhadap kemungkinan meredanya konflik yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang kawasan Timur Tengah serta memengaruhi stabilitas ekonomi global. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya mereda.

Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, konflik telah memicu kenaikan harga energi dunia dan berdampak pada meningkatnya biaya berbagai kebutuhan pokok. Hingga kini, berbagai upaya diplomatik untuk mengubah gencatan senjata yang diumumkan pada April menjadi perjanjian damai permanen belum menghasilkan kesepakatan final.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyerukan agar pertempuran antara Israel dan Iran segera dihentikan. Tak lama setelah seruan tersebut, komando gabungan militer Iran mengumumkan penghentian operasi ofensif mereka.

Baca Juga: Kalau Dapur Distop, Siapa yang Memberi Makan 82,9 Juta Orang?

Dalam pernyataannya, militer Iran memperingatkan bahwa setiap "agresi dan tindakan permusuhan" lanjutan dari Israel maupun sekutunya, termasuk di Lebanon selatan, akan dibalas dengan langkah yang "lebih keras dan menghancurkan".

Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memberi sinyal bahwa rangkaian serangan terbaru telah berakhir. Namun, ia menegaskan Israel tidak akan ragu merespons jika Iran kembali melancarkan serangan.

"Jika Iran membuat kesalahan dan kembali menyerang kami, kami akan merespons dengan kekuatan," kata Netanyahu dalam sebuah rekaman pernyataan.

Meski mengindikasikan berakhirnya serangan langsung terhadap Iran, Netanyahu menegaskan operasi militer Israel terhadap Hezbollah yang didukung Teheran di Lebanon akan tetap berlanjut.

Di tengah upaya deeskalasi tersebut, serangan Israel di Lebanon masih terjadi. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas, termasuk seorang anak asal Suriah, akibat serangan udara di Desa Zefta. Delapan orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

Serangan terpisah di Tyre juga menyebabkan lima orang meninggal dunia dan delapan lainnya terluka, termasuk beberapa anggota Palang Merah Lebanon.

Israel dan Iran Longgarkan Pembatasan

Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

Sebagai bagian dari langkah meredakan ketegangan, kedua negara mulai mencabut sejumlah kebijakan keamanan yang sebelumnya diberlakukan.

Militer Israel mengumumkan bahwa sebagian besar sekolah yang sempat ditutup karena alasan keamanan akan kembali beroperasi. Di sisi lain, kantor berita resmi Iran, Mizan, melaporkan bahwa pembatasan ruang udara bagi penerbangan sipil telah dicabut.

Meski demikian, sejumlah faktor yang berpotensi memicu ketegangan masih tetap ada. Iran masih mempertahankan blokade ketat di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia. Situasi ini menjadi salah satu penyebab utama lonjakan harga energi global dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, Israel masih melanjutkan serangan terhadap posisi Hezbollah di Lebanon dan memperluas operasi militernya di negara tersebut.

Upaya Diplomasi Terus Berjalan

Sejumlah negara di kawasan terus berupaya mencegah konflik kembali meluas. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan memberikan ruang bagi proses perdamaian.

Menurut dua pejabat regional, Mesir, Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Qatar telah mendesak pemerintahan Trump agar menekan Israel untuk menghentikan serangan terhadap Iran dan Beirut. Pada saat yang sama, negara-negara tersebut juga meminta Iran menghentikan aksi militernya terhadap Israel.

Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, mengatakan bahwa negosiasi antara Teheran dan Washington masih terus berlangsung guna mencapai kesepakatan damai.

"Kami berharap kedua pihak dapat segera mencapai suatu kesimpulan," ujarnya usai menghadiri sidang Dewan Keamanan PBB.

Meskipun jeda serangan telah diumumkan, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa perdamaian permanen di kawasan masih menghadapi tantangan besar, terutama karena operasi militer di Lebanon terus berlangsung dan berbagai isu strategis belum menemukan titik temu.

x|close