Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dipastikan kembali maju dalam pemilihan umum nasional mendatang. Kepastian tersebut diumumkan oleh Likud, partai berhaluan kanan yang dipimpin Netanyahu.
Pengumuman itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka mempertanyakan apakah Netanyahu masih memiliki keinginan untuk kembali mengikuti kontestasi politik nasional Israel.
Netanyahu, yang tercatat sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel, telah memimpin negaranya selama periode konflik yang berkepanjangan dalam tiga tahun terakhir. Di saat yang sama, ia juga masih menghadapi proses hukum terkait dugaan kasus korupsi.
"Perdana Menteri Netanyahu akan maju dalam pemilihan berikutnya dan, jika Tuhan menghendaki (Insya Allah), dia akan menang," kata partai tersebut di Telegram.
Pernyataan resmi Likud tersebut menjadi jawaban atas spekulasi yang berkembang setelah Trump menyampaikan keraguannya mengenai langkah politik Netanyahu ke depan.
"Saya tidak tahu, dia memiliki karier yang luar biasa. Apakah dia ingin melanjutkan?" kata Trump.
"Karena, Anda tahu dia adalah perdana menteri di masa perang," sambungnya.
Sebelumnya, Netanyahu memang telah mengisyaratkan niatnya untuk kembali mencalonkan diri dalam pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober mendatang. Selama hampir dua dekade, ia telah beberapa kali menduduki kursi perdana menteri Israel dalam periode yang berbeda.
Baca Juga: Trump Ancam Netanyahu Lewat Istri Agar Tak Lanjutkan Serangan ke Pinggiran Beirut
Komentar Trump itu juga muncul setelah hubungan kedua pemimpin sempat memanas beberapa hari sebelumnya. Media setempat melaporkan adanya perbedaan pandangan yang memicu ketegangan antara Washington dan Tel Aviv. Presiden AS bahkan disebut melontarkan kritik keras kepada sekutu dekatnya tersebut. Namun, Netanyahu merespons santai dan mengecilkan arti insiden itu saat tampil dalam wawancara di CNBC.
Selain menghadapi dinamika hubungan dengan Amerika Serikat, masa depan politik Netanyahu juga dibayangi persoalan kesehatan. Belum lama ini, ia mengungkapkan bahwa tim dokter berhasil mengangkat apa yang disebutnya sebagai 'tumor ganas kecil stadium awal' dari prostatnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Netanyahu tercatat beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit sejak kembali menjabat pada Desember 2022. Pada Maret 2024, ia menjalani operasi hernia, sementara pada Desember tahun yang sama ia kembali menjalani prosedur medis terkait pembesaran prostat.
Di tengah tantangan politik dan kesehatan tersebut, Netanyahu masih memimpin Israel dalam sejumlah konflik regional. Di wilayah Gaza, militer Israel terus melanjutkan operasi terhadap kelompok Hamas meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata.
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)
Sementara itu, di Lebanon, Israel tetap melakukan operasi militer terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran, meski gencatan senjata juga telah diberlakukan.
Pada saat yang sama, ketegangan dengan Iran terus meningkat. Israel bersama Amerika Serikat terlibat dalam serangkaian serangan yang memperluas konflik di kawasan dan memicu gejolak yang menjalar ke berbagai wilayah Timur Tengah.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, keputusan Netanyahu untuk kembali maju dalam pemilu menandai upayanya mempertahankan pengaruh politik di Israel sekaligus menghadapi ujian besar di tengah situasi domestik dan regional yang masih penuh ketidakpastian.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)