Ntvnews.id, Istanbul - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di wilayah selatan Iran pada Rabu dini hari. Serangan tersebut dilaporkan memicu ledakan di beberapa titik strategis di Provinsi Hormozgan dan membuat sistem pertahanan udara Iran siaga penuh.
Media Iran melaporkan bahwa sejumlah wilayah menjadi sasaran serangan udara yang diduga dilakukan oleh jet tempur Amerika Serikat. Kantor berita Tasnim menyebutkan kawasan Sirik, Pulau Qeshm, dan Minab sebagai lokasi yang terdampak dalam operasi militer tersebut.
Menurut laporan yang beredar, sedikitnya enam ledakan terdengar di area sasaran. Televisi pemerintah Iran juga mengonfirmasi bahwa sebuah proyektil menghantam Kota Sirik. Tidak lama kemudian, media pemerintah melaporkan bahwa beberapa proyektil lainnya turut mengenai Pulau Qeshm.
Baca Juga: Timteng Bergejolak, Kuwait–Yordania Kompak Cegat Rudal yang Berasal dari Iran
Meski demikian, hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai tingkat kerusakan maupun kemungkinan korban akibat serangan tersebut. Otoritas Iran masih melakukan penilaian terhadap dampak yang ditimbulkan dari serangan di sejumlah lokasi tersebut.
Sebagai respons terhadap situasi yang berkembang, sistem pertahanan udara Iran dilaporkan langsung diaktifkan di beberapa wilayah penting, termasuk Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik. Aktivasi sistem pertahanan tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan.
Di sisi lain, kantor berita Mehr melaporkan adanya empat ledakan yang terjadi di kawasan Pelabuhan Jask. Selain itu, satu ledakan tambahan juga terdengar di wilayah pinggiran Bandar Abbas yang merupakan salah satu pusat aktivitas maritim penting di Iran selatan.
Baca Juga: Timnas Iran Kenakan Pin 168 saat Tiba di Meksiko Jelang Piala Dunia 2026, Apa Artinya?
Perkembangan terbaru ini terjadi setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan dimulainya operasi militer yang disebut sebagai langkah "membela diri" terhadap Iran. Pernyataan tersebut disampaikan setelah terjadinya insiden yang melibatkan helikopter Apache milik Angkatan Darat AS.
CENTCOM menyatakan operasi tersebut diluncurkan sebagai respons atas jatuhnya sebuah helikopter Apache milik Angkatan Darat AS dalam insiden sebelumnya.
Situasi yang terus berkembang ini menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut antara Washington dan Teheran apabila tidak segera direspons melalui jalur diplomatik.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran. /ANTARA/Anadolu/py. (Antara)