Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan kritik keras kepada Iran. Trump menilai Teheran terlalu lama dalam proses perundingan untuk mencapai kesepakatan yang selama ini dibahas kedua pihak.
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyampaikan kekecewaannya terhadap sikap Iran dalam negosiasi yang berlangsung.
"Si perundung Timur Tengah telah mati! Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayar harganya!" tulis Trump dalam aku media sosial miliknya, Truth Social.
Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan optimisme yang sebelumnya disampaikan Trump. Beberapa hari sebelumnya, ia meyakini bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dapat segera tercapai dalam waktu dekat.
"[Kesepakatan mengakhiri perang] bisa dicapai dalam satu atau dua hari lagi, tapi saya pikir semuanya berjalan baik," kata dia pada Senin, 8 Juni2 2026.
Baca Juga: Trump Kembali Bersitegang dengan Jurnalis Saat Wawancara
Saat itu, Trump bahkan menyatakan proses negosiasi berada di tahap akhir dan menunjukkan perkembangan yang positif.
"Mereka maju mundur, dan sekarang mereka semua sepakat melalui saya untuk berhenti, dan kita berada di tahap akhir dari kesepakatan yang sangat, sangat baik yang tidak akan mengizinkan senjata nuklir dalam bentuk apa pun."
Namun situasi berubah setelah Washington kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran. Langkah tersebut diambil menyusul tuduhan Trump bahwa Iran telah menembak jatuh helikopter tempur Apache milik Amerika Serikat yang sedang melakukan patroli di kawasan Selat Hormuz.
"Saya baru saja diberitahu oleh militer kami bahwa tadi malam Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache kami yang sangat canggih, saat berpatrolid di Selat Hormuz," tulis Trump di media sosial.
Trump kemudian menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan tinggal diam menghadapi insiden tersebut.
"AS harus merespons ini," imbuhnya.
Arsip foto Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump. /ANTARA/Anadolu/pri. (Antara)
Tak lama setelah pernyataan itu disampaikan, militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan ke sejumlah target di wilayah Iran yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Aksi militer Washington tersebut segera memicu respons dari Teheran. Iran dilaporkan membalas dengan menyerang fasilitas-fasilitas militer Amerika Serikat yang berada di sejumlah negara kawasan Teluk.
Perkembangan terbaru ini semakin memperuncing ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran di tengah upaya diplomatik yang sebelumnya diharapkan mampu menghasilkan kesepakatan dan meredakan konflik. Situasi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah, terutama di jalur strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (25/42026). ANTARA/Anadolu/Celal Güne?. (Antara)