Demo Anti-Presiden Bolivia Berujung Bentrok, Polisi dan Massa Saling Serang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Jun 2026, 06:28
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Bolivia Rodrigo Paz. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu) Arsip foto - Presiden Bolivia Rodrigo Paz. /ANTARA/Anadolu/py. (Anadolu) (Antara)

Ntvnews.id, Sucre - Aksi demonstrasi yang menuntut Presiden Bolivia Rodrigo Paz mengundurkan diri berakhir ricuh setelah terjadi bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian di Kota Cochabamba.

Dalam upaya membubarkan kerumunan, polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran. Sebaliknya, para pengunjuk rasa membalas dengan melemparkan petasan, batu, serta tongkat ke arah petugas keamanan.

Menurut keterangan kepolisian, para demonstran berusaha merusak jembatan yang menjadi penghubung Cochabamba dengan wilayah barat Bolivia.

Gelombang protes di Bolivia sebenarnya telah berlangsung sejak bulan lalu. Ketegangan meningkat setelah Paz menandatangani undang-undang yang dinilai memberikan kewenangan lebih besar kepada pemerintah untuk memberlakukan status darurat.

"Undang-undang ini bertujuan melindungi mayoritas penduduk negara ini dari terorisme narkoba yang memicu protes," kata Paz usai meneken UU, dikutip dari ABC News, Jumat, 12 Juni 2026.

Dia lalu berujar, "Saya mengulurkan tangan ke organisasi-organisasi sosial yang punya tuntutan yang sah dan menegaskan kembali kesediaan saya untuk terlibat dalam dialog."

Baca Juga: Krisis Politik Bolivia Memanas, Sejumlah Menteri Mundur di Tengah Gelombang Demonstrasi

Meski demikian, tawaran dialog tersebut ditolak oleh para demonstran. Mereka tetap bersikeras meminta Paz mundur dari jabatannya.

Aksi protes bermula dari ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Paz. Kondisi ekonomi yang terus memburuk, lonjakan inflasi, kenaikan harga bahan bakar minyak, hingga kebijakan penghapusan subsidi BBM menjadi pemicu utama kemarahan publik.

Serikat pekerja nasional, kelompok petani, dan berbagai organisasi masyarakat kemudian mendirikan sekitar 90 titik blokade di jalur-jalur utama negara. Langkah tersebut membuat sejumlah kota besar, termasuk La Paz, praktis terisolasi.

Pemerintah Paz merespons aksi tersebut dengan pendekatan tegas. Sejumlah demonstran ditangkap dan kerusuhan yang terjadi menimbulkan korban jiwa.

Berdasarkan laporan Ombudsman Bolivia, kerusuhan yang berlangsung pada periode 1 Mei hingga 2 Juni mengakibatkan 10 orang meninggal dunia, 37 lainnya mengalami luka-luka, dan sebanyak 356 orang ditahan aparat.

x|close