Kepercayaan Warga Eropa terhadap AS Anjlok ke Titik Terendah Sepanjang Sejarah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Jun 2026, 07:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Bendera Uni Eropa terlihat di depan kantor pusat Komisi Eropa di Brussel, Belgia (23/5/2025). ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/aa. Arsip foto - Bendera Uni Eropa terlihat di depan kantor pusat Komisi Eropa di Brussel, Belgia (23/5/2025). ANTARA/Xinhua/Zhao Dingzhe/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Tingkat kepercayaan masyarakat Eropa terhadap Amerika Serikat (AS) mencapai level terendah yang pernah tercatat. Hasil survei terbaru Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR) menunjukkan hanya 11 persen warga Eropa yang masih memandang AS sebagai sekutu.

Dilansir dari DW, Jumat, 12 Juni 2026, Angka tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan enam bulan sebelumnya yang berada di level 16 persen. Bahkan pada November 2024, ketika Donald Trump memenangkan pemilihan presiden AS, persentasenya masih mencapai 22 persen.

Survei yang dirilis pada Rabu, 10 Juni 2026 itu mengindikasikan adanya perubahan pandangan masyarakat Eropa terhadap hubungan transatlantik. Menurut ECFR, warga Eropa kini semakin mengutamakan kemandirian strategis dan bersikap lebih realistis terhadap kepemimpinan Trump, meski tidak sepenuhnya menginginkan hubungan dengan Washington berakhir.

Mayoritas responden juga mengaku ragu bahwa AS akan memberikan bantuan militer jika Eropa menghadapi serangan. Temuan ini muncul menjelang penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 dan NATO yang akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

Hasil jajak pendapat tersebut memperlihatkan merosotnya kepercayaan publik Eropa terhadap AS dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS. Kondisi ini cukup kontras mengingat Washington selama puluhan tahun dikenal sebagai mitra utama Eropa dalam bidang pertahanan dan keamanan.

Baca Juga: Uni Eropa Khawatir Tarif Baru AS Bisa Melampaui 10 Persen

Meski demikian, mayoritas responden di hampir seluruh negara yang disurvei, kecuali Bulgaria, meyakini hubungan transatlantik akan membaik setelah masa pemerintahan Trump berakhir. Hubungan transatlantik sendiri merujuk pada kerja sama politik, ekonomi, dan keamanan antara negara-negara Amerika Utara, khususnya AS dan Kanada, dengan negara-negara Eropa.

Penurunan kepercayaan tersebut dipengaruhi sejumlah kebijakan kontroversial Trump sejak memulai masa jabatan keduanya. Pemerintahannya memberlakukan tarif terhadap produk-produk Eropa dan beberapa kali mengancam akan menarik AS keluar dari NATO.

Trump juga mengkritik negara-negara Eropa karena dianggap tidak memberikan dukungan yang cukup dalam konflik AS-Israel melawan Iran serta dinilai kurang serius meningkatkan anggaran pertahanan mereka.

Selain itu, pernyataan Trump mengenai keinginannya menguasai Greenland turut memicu kekhawatiran di Eropa. Greenland merupakan wilayah otonom milik Denmark yang juga anggota NATO dan Uni Eropa.

Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat. ANTARA/Pixabay <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat. ANTARA/Pixabay (Antara)

Hubungan Washington dengan sejumlah negara Eropa semakin tegang setelah AS mengumumkan rencana pengurangan pasukan yang ditempatkan di Jerman. Kebijakan itu muncul di tengah perselisihan antara Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang sebelumnya menyebut AS sedang "dipermalukan" oleh Iran.

Di tengah ketegangan tersebut, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, pernah menegaskan bahwa memburuknya hubungan dengan Washington menunjukkan "perlunya membangun bentuk kemandirian Eropa yang baru."

Survei juga menyoroti pandangan warga Eropa terhadap perang di Ukraina. Mayoritas responden tetap mendukung Ukraina, namun menunjukkan sikap lebih berhati-hati terkait kemungkinan keanggotaan negara itu di Uni Eropa maupun pengiriman pasukan untuk menghadapi Rusia.

Baca Juga: Uni Eropa dan AS Capai Kesepakatan Sementara soal Regulasi Tarif Perdagangan

Dalam sektor energi, sebagian besar responden mengakui Eropa masih menghadapi tantangan krisis energi. Namun demikian, mereka tetap menolak gagasan untuk kembali mengimpor bahan bakar fosil dari Rusia.

Selain itu, dukungan terhadap peningkatan belanja pertahanan mengalami kenaikan sebesar empat persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hampir setengah responden, atau sekitar 47 persen, juga mendukung pembiayaan bersama Uni Eropa melalui skema pinjaman kolektif untuk mendukung proyek-proyek pertahanan.

Mayoritas responden turut menyatakan dukungan terhadap upaya mengurangi ketergantungan Eropa pada persenjataan buatan AS dan mendorong penggunaan peralatan militer yang diproduksi di Eropa.

Survei ECFR tersebut dilakukan pada Mei 2026 dengan melibatkan responden dewasa di 15 negara, yakni Austria, Belanda, Bulgaria, Denmark, Estonia, Hungaria, Inggris, Italia, Jerman, Polandia, Portugal, Prancis, Spanyol, Swedia, dan Swiss.

x|close