BMKG Sebut El Nino Masuk Kategori Kuat, Operasi Modifikasi Cuaca Dipercepat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Jul 2026, 06:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (Sekretariat Presiden)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa fenomena El Nino saat ini telah mencapai kategori kuat. Sebagai langkah antisipasi terhadap dampaknya, operasi modifikasi cuaca mulai dilakukan untuk menjaga ketersediaan air di waduk serta mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah rawan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa El Nino dikategorikan aktif ketika suhu permukaan laut di kawasan tengah Samudra Pasifik mengalami peningkatan lebih dari 0,5 derajat Celsius dibandingkan kondisi normal. Berdasarkan indikator tersebut, kondisi El Nino saat ini telah berada pada tingkat kuat sehingga membutuhkan langkah mitigasi yang lebih intensif.

"Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat. Jadi kita perlu mengantisipasi khususnya pada 2 hal. Yang pertama, antisipasi terkait dengan kekeringan, dan yang kedua terkait dengan kebakaran hutan dan lahan," kata Faisal  di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 27 Juli 2026 malam.

Dalam menghadapi potensi kekeringan, BMKG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan sejumlah pihak swasta untuk menjalankan operasi modifikasi cuaca di berbagai daerah. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan cadangan air di sejumlah waduk di Indonesia.

Baca Juga: BMKG Ingatkan Potensi Banjir Rob di Jakarta, Jabar hingga Jatim

"Kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih," ujarnya.

Selain menjaga pasokan air, BMKG juga memperkuat langkah pencegahan karhutla melalui operasi modifikasi cuaca di wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadi kebakaran. Enam provinsi menjadi prioritas utama, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

"Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi," ujarnya.

BMKG menegaskan operasi modifikasi cuaca akan terus dilakukan secara situasional sesuai kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah. Upaya tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak El Nino, terutama ancaman kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta menjaga ketersediaan sumber daya air nasional.

x|close