Ntvnews.id, Jakarta - Hasil survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto berada di angka 49,5 persen. Survei tersebut dilakukan terhadap 4.250 responden pada periode 14 Juli hingga 24 Juli 2026.
Dalam survei yang sama, sebanyak 48,8 persen responden menyatakan kurang puas atau tidak puas sama sekali terhadap kinerja Presiden Prabowo. Sementara itu, sebanyak 1,6 persen responden memilih tidak memberikan jawaban.
Angka kepuasan tersebut mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan survei Indikator sebelumnya pada April 2026 yang mencatat tingkat kepuasan sebesar 68 persen. Bahkan pada Desember 2025, tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo tercatat mencapai 81 persen.
Dari kelompok masyarakat yang merasa puas, sebanyak 14,8 persen responden menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai alasan utama. Kemudian, 13,4 persen menilai Prabowo sering memberikan bantuan kepada masyarakat, sedangkan 13,2 persen mengapresiasi komitmennya dalam pemberantasan korupsi.
Sementara itu, kelompok responden yang tidak puas memberikan sejumlah alasan. Sebanyak 17,4 persen menilai harga kebutuhan pokok semakin mahal, 10,2 persen menyebut program kerja pemerintah belum berjalan maksimal, dan 9,9 persen menilai praktik korupsi masih marak.
Selain mengukur tingkat kepuasan terhadap Presiden, Indikator Politik Indonesia juga melakukan survei terkait kondisi umum nasional, termasuk bidang ekonomi, politik, hukum, keamanan, pemberantasan korupsi, dan demokrasi.
Dalam aspek ekonomi, sekitar 40 persen masyarakat menilai kondisi ekonomi saat ini berada dalam kategori sedang. Angka tersebut hampir sama dengan responden yang menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk, yakni 39,6 persen. Sementara itu, 19,3 persen responden menilai kondisi ekonomi baik atau sangat baik, dan 1,1 persen tidak memberikan jawaban.
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sebanyak 44 persen masyarakat menilai kondisi ekonomi nasional mengalami penurunan, sedangkan 20,6 persen menilai membaik dan 34,5 persen menyebut tidak mengalami perubahan. Sebanyak 0,9 persen responden tidak menjawab.
Untuk kondisi politik nasional, sebanyak 36,8 persen responden menilai situasi politik berada pada kategori sedang, sementara 36,1 persen menilai buruk atau sangat buruk. Adapun 19,2 persen menilai kondisi politik baik atau sangat baik, dan 7,8 persen tidak memberikan jawaban.
Pada sektor penegakan hukum, mayoritas responden memberikan penilaian negatif. Sebanyak 37,4 persen menilai kondisi penegakan hukum buruk atau sangat buruk, 31,1 persen menilai sedang, dan 27,6 persen menilai baik atau sangat baik. Sisanya sekitar 4 persen tidak menjawab.
Baca Juga: Prabowo Instruksikan Daerah Siaga Hadapi El Nino, AHY: Fokus pada Air Bersih dan Karhutla
Berbeda dengan aspek hukum, kondisi keamanan mendapat penilaian lebih positif. Sebanyak 48,8 persen responden menilai kondisi keamanan baik atau sangat baik, 33,2 persen menilai sedang, dan 16,8 persen menilai buruk atau sangat buruk. Sebanyak 1,2 persen tidak menjawab.
Sementara dalam hal pemberantasan korupsi, sebanyak 42,9 persen masyarakat menilai kondisi saat ini buruk atau sangat buruk. Sebanyak 29,5 persen memberikan penilaian baik atau sangat baik, 23,1 persen menilai sedang, dan 4,5 persen tidak memberikan jawaban.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 52,6 persen masyarakat merasa sangat puas atau cukup puas terhadap pelaksanaan demokrasi di Indonesia. Sebaliknya, 42,6 persen responden merasa kurang puas atau tidak puas sama sekali, sedangkan 4,9 persen tidak menjawab.
Indikator Politik Indonesia melakukan survei dengan metode multistage random sampling. Dari total sampel, sebanyak 3.700 responden berasal dari seluruh provinsi dengan distribusi proporsional. Selain itu, dilakukan oversample terhadap kelompok mahasiswa di Jabodetabek sebanyak 200 responden, buruh pabrik di Jabodetabek dan Karawang sebanyak 200 responden, serta nelayan di wilayah Pantura sebanyak 150 responden.
Dengan metode unproportional stratified random sampling, survei tersebut memiliki tingkat margin of error sekitar ±1,6 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Proses quality control dilakukan secara acak terhadap 20 persen dari total sampel melalui kunjungan ulang kepada responden terpilih dan tidak ditemukan kesalahan berarti.
Sebelumnya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) juga merilis hasil survei periode 5-19 Juli 2026 yang menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo sebesar 51,1 persen.
Dalam survei SMRC tersebut, sebanyak 4,8 persen masyarakat mengaku sangat puas, 46,3 persen cukup puas, 35 persen kurang puas, 11,9 persen tidak puas sama sekali, serta 2,1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
SMRC mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Prabowo mengalami penurunan dibandingkan November 2025 yang mencapai 81,2 persen. Penurunan tersebut dinilai berkaitan dengan meningkatnya evaluasi negatif masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.
Presiden Prabowo Subianto (Bakom RI)