Ntvnews.id, Jakarta - Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memperkirakan harga minyak dunia berpotensi melonjak tajam hingga menyentuh 100 dolar AS per barel apabila terjadi penutupan Selat Hormuz.
Saat ini, harga minyak global masih berada di kisaran 72 dolar AS per barel.
“Jika ditutup saat ini, besok lusa bisa mencapai langsung 90–100 dolar AS per barel,” ujar Yayan ketika dihubungi pada Senin, 2 Maret 2026.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Letaknya berada di antara Oman dan Iran serta menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Baca Juga: BPS Paparkan Nilai Perdagangan RI dengan Negara di Jalur Selat Hormuz
Sekitar seperlima ekspor minyak global melintasi selat ini, termasuk pasokan dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum didistribusikan ke pasar internasional.
Menurut Yayan, posisi strategis tersebut menjadikan Selat Hormuz titik sensitif dalam eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
“Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan naik menjadi 50 persen,” ucapnya.
Ia menambahkan, Indonesia sebagai negara pengimpor minyak dari kawasan Timur Tengah hampir pasti terdampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz, konflik yang sedang berlangsung di kawasan itu dinilai sudah cukup mendorong kenaikan harga minyak sebesar 10 hingga 25 persen.
Dengan asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar 70 dolar AS per barel, lonjakan di atas angka tersebut berpotensi menekan fiskal negara.
Karena itu, Yayan mengingatkan pemerintah agar bersiap mengantisipasi kemungkinan pembengkakan anggaran.
“Harus ada efisiensi lagi, tetapi apakah pemerintah mau?” ucapnya.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah pada Sabtu, 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran.
Serangan itu menjadi yang kedua pada masa pemerintahan Presiden AS Donald Trump sejak aksi militer pertama pada Juni 2025.
Baca Juga: Airlangga Tegaskan Konflik AS–Venezuela Belum Berdampak ke Harga Minyak
Trump menyatakan operasi militer tersebut bertujuan melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman yang disebut berasal dari dugaan pengembangan senjata nuklir Iran.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah menjalani tiga putaran perundingan tidak langsung terkait program nuklir Iran dengan mediasi Oman.
Putaran pertama dan kedua berlangsung pada awal Februari 2026 di Muscat dan Jenewa, membahas pembatasan pengayaan serta stok uranium Iran sebagai imbalan pelonggaran sanksi.
Putaran ketiga digelar pada Kamis, 26 Februari 2026, di Jenewa di tengah situasi kawasan yang semakin memanas.
Dalam perkembangan pasar energi, harga minyak acuan sempat melonjak sekitar 13 persen hingga menyentuh 82 dolar AS per barel, sebelum kembali ke kisaran 76,4 dolar AS per barel.
Namun, skenario penutupan penuh Selat Hormuz diperkirakan dapat mendorong harga menembus 100 dolar AS per barel, dengan rata-rata harga minyak mentah Brent sepanjang 2026 berpotensi berada di kisaran 85 dolar AS per barel.
(Sumber: Antara)
Ilustrasi - Harga minyak naik, dengan peta dunia di latar belakang. (ANTARA/Shutterstoc/pri.) (Antara)