Pertamina Harus Perkuat Eksplorasi dan Kemitraan Global, Ini Alasannya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Jun 2026, 16:56
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) meraih Penghargaan Kerja Sama Industri dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti dalam momentum Dies Natalis ke-56. (Foto: Dok/Istimewa) PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) meraih Penghargaan Kerja Sama Industri dari Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti dalam momentum Dies Natalis ke-56. (Foto: Dok/Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Pengamat migas, Benny Lubiantara, mengatakan transformasi strategis yang dilakukan Pertamina menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menghadapi tantangan transisi energi global. Ia menilai Indonesia membutuhkan langkah yang lebih agresif dan adaptif agar tidak tertinggal dalam perebutan investasi energi dunia.

Dalam paparannya, Benny menunjukkan data penurunan produksi minyak nasional yang terus terjadi selama tiga dekade terakhir. Ia membeberkan lifting minyak Indonesia turun dari sekitar 1,5 juta barel per hari pada era 1990-an menjadi sekitar 600 ribu barel per hari saat ini. Di sisi lain, kebutuhan energi nasional terus meningkat sehingga impor minyak Indonesia mencapai sekitar 900 ribu hingga 1 juta barel per hari.

“Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi ketahanan energi nasional karena ketergantungan terhadap impor energi semakin besar. Pertamina sebagai perusahaan energi nasional harus mampu menjaga keberlanjutan pasokan energi di tengah tekanan transisi menuju energi rendah karbon,” kata Benny dalam diskusi bertajuk ‘Peningkatan Ketahanan dan Transisi Energi Nasional Melalui Transformasi Strategis Pertamina’, Selasa (19/5/2026).

Mantan Deputi SKK Migas itu menjelaskan sebagian besar lapangan migas Indonesia saat ini sudah memasuki fase mature fields atau lapangan tua yang secara alami mengalami penurunan produksi. Menurut Benny, peningkatan produksi harus didorong melalui eksplorasi baru, pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), serta pengembangan sumber daya nonkonvensional.

“Pertamina juga bisa membangun strategi baru melalui penguatan kemitraan global, penguasaan teknologi, hingga aksi korporasi seperti strategic partnership dan merger and acquisition (M&A). Kita maunya Pertamina tak hanya kuat di dalam negeri, tetapi juga memiliki akses global terhadap teknologi dan sumber daya energi baru,” ujarnya.

Benny juga menyoroti sejumlah tantangan kebijakan yang harus segera dibenahi pemerintah untuk mendukung transformasi energi nasional. Beberapa di antaranya adalah reformasi fiskal sektor migas, penurunan tren government take global, kompetisi investasi dalam era Net Zero Emission (NZE), serta pentingnya ease of doing business atau kemudahan berusaha.

Dalam implementasinya, Benny berharap pemerintah dapat bergerak lebih cepat dalam proses perizinan dan pelaksanaan proyek energi di Indonesia. Ia melihat selama ini banyak proyek kehilangan keekonomian akibat panjangnya birokrasi dan kompleksitas koordinasi antarpemangku kepentingan.

“Transformasi strategis Pertamina harus berjalan beriringan dengan transformasi regulasi pemerintah. Kombinasi antara penguatan investasi, eksplorasi masif, kemitraan strategis, dan perbaikan iklim usaha. Saya yakin hal ini akan menjaga ketahanan energi nasional sekaligus memastikan proses transisi energi Indonesia tetap berjalan berkelanjutan,” kata Benny.

Baca Juga: Pertamina EP dan Cikarang Listrindo Teken Kontrak Pasokan Gas hingga 2035

x|close