Harga Minyak Dunia Melonjak Gegara Perang AS-Iran, Pemerintah Hitung Dampaknya ke APBN 2026

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Mar 2026, 21:45
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak pada pasokan energi global, termasuk Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak pada pasokan energi global, termasuk Indonesia. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah masih mengkaji dampak lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

“Di dalam APBN, harga ICP (harga minyak mentah Indonesia/Indonesian Crude Price) itu 70 dolar AS per barel, dan sekarang harga minyak sudah naik menjadi 78–80 dolar AS per barel,” ujar Bahlil dalam konferensi pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia menjelaskan bahwa harga minyak global saat ini telah melampaui asumsi makro yang ditetapkan dalam APBN 2026. Kenaikan tersebut berpotensi memberikan tekanan pada keuangan negara, mengingat Indonesia masih mengimpor minyak sekitar 1 juta barel per hari.

Menurut Bahlil, lonjakan harga berisiko meningkatkan beban subsidi energi. Namun di sisi lain, Indonesia juga memperoleh tambahan penerimaan dari produksi dalam negeri yang mencapai sekitar 600 ribu barel per hari.

“Karena Indonesia kan berkontribusi kurang lebih sekitar 600 ribu barel per hari. Nah, selisih ini yang sedang kami hitung,” ucap Bahlil.

Baca Juga: Timur Tengah Memanas, Bahlil Jamin Harga BBM Subsidi Tak Naik

Ia menegaskan perhitungan tersebut harus dilakukan secara cermat karena menyangkut stabilitas subsidi dan ketersediaan energi nasional.

“Kami harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya, dengan tetap memastikan ketersediaan BBM di dalam negeri,” kata dia.

Sebelumnya, pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran.

Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup, Bahlil Sebut 25 Persen Impor Minyak RI Terhambat

Pada Minggu, 1 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump

 mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan tersebut. Televisi pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan itu.

Media Iran juga melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup setelah serangan Amerika Serikat dan Israel, meski belum ada pengumuman resmi terkait blokade formal. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta volume besar ekspor gas alam cair dari Qatar dan Uni Emirat Arab.

Diperkirakan sekitar 20 persen konsumsi minyak harian global, atau sekitar 20 juta barel per hari, melintasi jalur strategis tersebut, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu gejolak harga energi dunia.

(Sumber: Antara) 
 
x|close