"Hingga 2 Maret pukul 16.00 ET (atau Selasa (3 Maret 2026) pukul 04.00 WIB), ada enam personel militer AS tewas dalam tugas. Pasukan AS baru-baru ini menemukan jenazah dua personel militer yang sebelumnya hilang dari sebuah fasilitas yang terkena serangan awal Iran di kawasan tersebut," demikian diungkapkan CENTCOM AS dalam sebuah unggahan di platform media sosial X.
Pada hari yang sama, Senin, 2 Maret 2026, CENTCOM juga melaporkan bahwa pasukan AS menenggelamkan 11 kapal angkatan laut Iran yang beroperasi di Teluk Oman. Langkah tersebut menjadi bagian dari eskalasi konflik antara kedua negara.
Serangan udara berskala besar terhadap Iran dimulai oleh Amerika Serikat bersama Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, pagi waktu setempat. Sehari setelahnya, Minggu, 1 Maret 2026, pihak Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei
, tewas akibat serangan udara tersebut.
Baca Juga: Militer Israel Serang TV Pemerintah Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin, 2 Maret 2026, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran berpotensi berlangsung lebih lama dari perkiraan awal empat hingga lima pekan.
Di dalam negeri, kebijakan tersebut menuai kritik dari kalangan Partai Demokrat. Sejumlah anggota parlemen menilai tidak ada ancaman mendesak yang membenarkan operasi militer tersebut, serta menyoroti tidak adanya otorisasi resmi dari Kongres.
Salah satu tokoh senior Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS, Hakeem Jeffries, menyampaikan keprihatinannya melalui media sosial pada Minggu, 1 Maret 2026.
"Tidak boleh ada lagi pahlawan Amerika yang gugur karena keputusan gegabah untuk berperang. Kongres harus bertindak pekan ini untuk mengendalikan Presiden," kata Jeffries.
Baca Juga: Inggris, Prancis dan Jerman Siap Ambil Tindakan Defensif Terhadap Iran